<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ngangkrukcity</title>
	<atom:link href="http://ekobr.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekobr.wordpress.com</link>
	<description>rumah sepi dipinggir sawah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Jan 2012 10:01:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ekobr.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/d56d071adfd49531c3081372f337f4cb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ngangkrukcity</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ekobr.wordpress.com/osd.xml" title="ngangkrukcity" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ekobr.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Untuk Adik Kelasku, Gayus</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2011/01/18/untuk-adik-kelasku-gayus/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2011/01/18/untuk-adik-kelasku-gayus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 06:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[hari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Minggu, 21 Nov 2010 11:49 WIB Oleh: HERI PRABOWO* &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2011/01/18/untuk-adik-kelasku-gayus/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=108&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 21 Nov 2010 11:49 WIB</p>
<p>Oleh: HERI PRABOWO*</p>
<p><a href="http://ekobr.files.wordpress.com/2011/01/stan1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-112" title="stan1" src="http://ekobr.files.wordpress.com/2011/01/stan1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ADA anekdot yang beredar saat reuni akbar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN-Prodip) pada Oktober 2010. Yakni, anekdot tentang pemberian award untuk sejumlah alumnus dengan berbagai kategori. Kategori tersukses jatuh kepada Hadi Pumomo, ketua BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Kategori karir tercepat diperuntukkan Haryono Umar, wakil ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Kategori terkontroversial jatuh kepada M. Misbakhun, anggota DPR, inisiator hak angket Bank Century yang akhirnya jadi tersangka kasus yang sama. Sedangkan kategori terpopuler dipegang Gayus Tambunan. Dia menyingkirkan Helmi Yahya yang jadi selebriti top. Gayus bahkan lebih populer daripada bosnya, M Tjiptardjo. Dirjen Pajak yang juga alumnus STAN.</p>
<p>Memiliki sejumlah kesamaan dengan tokoh populer ternyata cukup menggelitik hati saya. Ada beberapa kesamaan saya dengan Gayus. Sama-sama alumnus STAN-Prodip yang lantas terjerembab mafia pajak dan berujung menghadapi proses hukum. Di usia yang sama, 30 tahun. Usia yang seharusnya kila mulai untuk menapak puncak karir, tapi justru kami terperosok dalam.</p>
<p>Saya tidak seberuntung Gayus, yang masih kaya walau hartanya Rp I (X) miliar disita. Tapi, Gayus juga tidak seberuntung saya. Dia bersusah payah merintis karir di luar Jawa, sedangkan saya sejak awal ditempatkan di kota besar (Surabaya).</p>
<p>Muda, berduit, dan berkuasa. Itulah gambaran untuk kami, para mafia pajak. Meski hanya pegawai rendahan, toh kami berperan besar atas urusan pajak sejumlah perusahaan. Sebab, kami punya lobi. Bisa dibayangkan betapa kami sering memandang kecil sebuah masalah. Sembrono dan ugal-ugalan. Bahkan, saat kami telah ditahan, saya ikut mencicipi fasilitas lebih di tahanan. Walau tidak seeksklusif Tante Ayin (Artalyta Suryani) dan kawan-kawan, fasilitas itu juga dinikmati pejabat tinggi, politisi, dan orang-orang kaya yang ditahan di sana. Saya berbangga. Saya bisa selevel dengan mereka. Kebanggaan yang semu di tengah hujan cercaan.</p>
<p>Tidak heran Gayus dengan enteng keluar masuk rutan. Toh, tahanan lain yang jabatannya jauh di atasnya melakukan hal serupa. Saya yakin bahwa Gayus pun bangga melakukannya. Padahal, dia bukan mereka. Uang boleh sama, lapi mereka cerdik, berpengalaman, dan punya network luas. Gayus boleh bernyanyi, tapi mereka sekejap tiarap, lalu tertawa lagi.</p>
<p>Dengan latar belakang keluarga kurang beruntung secara ekonomi dan broken home. Gayustelah berjuang untuk menjadi bernilai lebih. Tidak mudah bisa duduk jadi mahasiswa STAN. Tidak mudah juga bisa lulus. Sebab, berlaku sistem DO (dropout) yang ketat.</p>
<p>Kampus dipenuhi mahasiswa duri golongan menengah ke bawah. Kebanyakan di antara mereka berasal dari desa-desa. Kesederhanaan selalu tampak. Jangan heran jika ada seorang asisten dosen berangkat ke kampus dengan naik sepeda mini yang juga cocok untuk anaknya. Kampus juga menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan religiusitas. Masjid-masjid tidak hanya dipenuhi mahasiswa sejak azan Subuh berkumandang Tempat itu juga dimakmurkan oleh berbagai kegiatan agama. Mulai mengajar TPA (laman pendidikan Alquran) hingga diskusi keagamaan, semuanya dimotori mahasiswa STAN. Lalu, kenapa saya dan Gayus bisa lahir? Lalu, mengapa kami bisa jadi pencinta kemewahan?</p>
<p>Pengaruh dimulai saat bertemu dengan para senior yang telah bekerja. Bertemu dengan rekan kerja dan atasan saal bekerja. Dengan gambling, mereka gambarkan tempat basah dan tempat kering. Dengan nyata, mereka jadi orang kayabaru. Semua terjadi begitu terbuka dan aman-aman saja. Hanya segelintir yang bisa bertahan dengan idealisme masing-masing. Sisanya lagi “miskin” karena tidak memperoleh kesempatan.</p>
<p>Saat lulus STAN pada 2000, Gayus berjibaku di lahan kering Kalimantan. Setiap mudik ke Jakarta, dia dan rekan-rekan lain ngiler kala melihat teman-teman seangkatannya begitu makmur. Membeli mobil seperti membeli gorengan. Jakarta adalah surga para mafia pajak. Perusahaan besar walau berkantor di daerah harus melaporkan pajak ke Jakarta. Besarnya putaran uang berbanding lurus dengan gemuknya gurita korupsi.</p>
<p>Maka, saat bertugas di Jakarta, Gayus lidak menyia-nyiakan kesempatan. Gayus hanya mencontoh apa yang dilihat sehari-hari di kantornya. Dia “beruntung”. Puluhan miliar rupiah dia kumpulkan dalam sekejap. Keserakahan yang ada dalam diri manusia pada umumnya, tapi tidak manusiawi.</p>
<p>Gayus pasti juga mendengar gosip yang pernah saya dengar. Yakni, sejumlah pejabat pajak pernah diperiksa karena menerima aliran dana tidak wajar di rekening dan umumnya mereka aman-aman saja.</p>
<p>Maka, wajar Gayus percaya diri. Tapi, takdir bicara lain. Dia diadili lagi dengan tumpukan dakwaan. Seakan hanya dialah mafia pajak di negeri ini.</p>
<p>Pada masa genderang perang melawan korupsi ditabuh siapa pun, termasuk para mafia hukum dan koruptor, wajar tekanan media menghantam. Wajar olok-olokan sarkastis menghajar bukan hanya kami, tapi juga keluarga. Bahkan, anak-anak yang masih suci. Stres sehingga berujung linangan air mata.</p>
<p>Kejengkelan muncul saat para bos mafia-mafia besar, justru nyaris udak tersentuh hukum. Gayus lantas bermanuver, “bernyanyi”. Banyak pihak ikut menabuh gendang untuk mengiringinya. Banyak pihak ikut bising mendengarnya.</p>
<p>Saat “nyanyian” tidak lagi merdu, Gayus bagai pion yang digerakkan untuk menjepit raja para lawan. Gerakan pion hanyalah bagian kecil dari manuver untuk langkah utama, skakmat! Orang tidak peduli jika pion akhirnya tersungkur dari papan catur.</p>
<p>Gayus, adik kelasku! Hadapilah sidang dengan hati baja. Ketakutan adalah hal wajar. Maka, berjalanlah hingga ujung papan catur. Ubah dirimu. Berhentilah jadi pion. Walaupun, tidak mungkin juga jadi raja. Bahkan, keadilan mungkin lidak berpihak kepadamu. Mungkin para raja, menteri, dan lainnya melenggang dengan tidak tersentuh hukum. Biarlah Tuhan yang menghukum mereka. Kelak ada hikmah dari semua masalah itu.</p>
<p>Apa yang terjadi kepadamu bukanlah cobaan Tuhan. Sebab, itu berawal dari kesalahan kita Meskipun, kini engkau merasa jadi kambing hitam.</p>
<p>Jika saya boleh memberikan nasihat. ceritakanlah kepada dunia setelanjang mungkin. Mengapa terjerembab dalam mafia pajak. Bagaimana caranya, metodenya, siapa saja teman-temannya. Dengan demikian, hal tersebut jadi bahan pembelajaran bagi aparat hukum, adik-adik kelas kita sealmamater, serta pegawai-pegawai pajak yang baru berkarir. Adakalanya kita terpeleset karena kebegoan kita. Tapi, juga selalu ada kesempatan untuk kembali bangkit.(sumber:Indo Pos/RIMA)</p>
<p>________________________________________</p>
<p>*) Alumnus STAN 1996. penulis buku Catatan Harian Seorang Mafia Pajak</p>
<p>sumber : Harian Jawa Pos, tgl. 21 Nopember 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=108&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2011/01/18/untuk-adik-kelasku-gayus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ekobr.files.wordpress.com/2011/01/stan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">stan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rayyan Aryo Panuksmo</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2010/02/10/rayyan-aryo-panuksmo/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2010/02/10/rayyan-aryo-panuksmo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:56:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[hari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[anak ke duaku, lahir hari Jum&#8217;at sore bulan Februari tahun 2009, pas maghrib kalau menurut kalender lahir Jum&#8217;at kliwon tapi kata orang jawa sudah masuk hari Sabtu (lewat maghrib) jadi hari kelahirannya kalau menurut kalender jawa adalah hari Sabtu legi &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2010/02/10/rayyan-aryo-panuksmo/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=34&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekobr.files.wordpress.com/2009/03/dsc00365.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-101" title="DSC00365" src="http://ekobr.files.wordpress.com/2009/03/dsc00365.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>anak ke duaku, lahir hari Jum&#8217;at sore bulan Februari tahun 2009, pas maghrib kalau menurut kalender lahir Jum&#8217;at kliwon tapi kata orang jawa sudah masuk hari Sabtu (lewat maghrib) jadi hari kelahirannya kalau menurut kalender jawa adalah hari Sabtu legi (katanya), aku sendiri kurang mengerti itung-itungan jawa. Padahal kalo di kantor suka ngaku-ngaku &#8220;wong ndeso&#8221;he,he wong ndeso kok &#8220;ra Mudheng&#8221; (nggak Paham) itungan weton, Payahhh!!!. Dan karena masih &#8220;debatable&#8221; maka kuanggap hal ini masih dalam wilayah atau ranah &#8220;khilafiyah&#8221; (sok sufi ha,ha,) yang konsekuensinya harus minta &#8220;fatwa&#8221; ke simbah-simbah alias tetua kampung  atau kalo didesaku terkenal dengan sebutan &#8220;dewan suro&#8221;. Bukan Dewan Syuro-nya NU lho!? ini dewan suro kependekan dari &#8220;Suka Rokok&#8221;, karena mbah-mbah ini biasanya punya hobi merokok yang cukup akut. Bahkan secara guyon ada yang menjuluki mereka sebagai &#8220;Ahli Hisap Wal Jamaah&#8221; (ha,ha) , mungkin karena kalo merokok suka pada ngumpul rame-rame yha?Jadi sambil &#8220;jagongan&#8221; kebal-kebul gitu, alhasil kalo orang yang nggak biasa kumpul sama mereka dijamin &#8220;keplepegen&#8221; atau minimal &#8220;mbrebes mili&#8221;deh, ha,ha. O ya kembali ke Laptop!!! Tentang proses kelahiran anakku, pagi itu sekitar pukul 08.00 aku dapat sms dari istriku kalau dia sudah masuk ke RS bersalin, katanya udah pembukaan 1, wah dah saatnya nih batinku sambil celingak-celinguk, maklum gak tau mau ngapain soalnya istri di Klaten dan aku sendiri di Jakarta.  Sebenarnya kalaupun istriku tidak memberi kabar aku udah tahu bahwa memang hari itu, Jum&#8217;at tanggal 6 Februari 2009 dia sudah harus ke RS untuk persiapan melahirkan. Hasil pemeriksaan oleh dokter kandungan telah diketahui kalau istriku akan melahirkan antara tanggal 6 atau 7 Februari 2009. Dan kalaupun tanggal 07 Februari belum lahir maka oleh dokter akan diambil &#8220;tindakan&#8221;, yah mungkin akan dilakukan operasi gitu. Ini menyangkut riwayat kehamilan istriku sebelumnya yang lahir melalui proses operasi. Cuma aku nggak nyangka aja dah bukaan gitu.  Di kantor aku langsung siap-siap &#8220;kabur&#8221; ke Klaten, menyelesaikan pekerjaan yg &#8220;jatuh tempo&#8221;, menyisihkan pekerjaan yang bisa ditunda, merapikan meja dan tentu saja membuat surat cuti.Ya C.U.T.Ii. itu memang dah jadi kesepakan aku sama istri, karena kalo anakku yg kedua ini lahir aku pengin nungguin, bukan apa-apa ini kuanggap sebagai bentuk keadilan, karena dulu kakaknya juga aku tungguin sampai &#8220;mbrojol&#8221; atau lebih tepatnya dibrojol paksa sama dokter he,he, jadi biar nanti kalo sudah besar secara psikologis anakku nggak merasa dibeda-bedain (kalo ini sok tahu mode on jadi jangan ditanya sumbernya). Kenapa nggak cuti dari kemaren? nah ini pertanyaan bagus, karena perkiraan tanggal 7 lahirnya, maka aku bikin cuti agak &#8220;ke belakang&#8221;. Perkiraan kami lahirnya hari Sabtu atau Minggu. Walhasil aku harus buat ralat surat cuti. Gitu Bos!!</p>
<p>Surat cuti selesai aku segera keluar kantor dengan tujuan &#8220;kabur&#8221; ke bandara Soekarno-Hatta walaupun belum dapat tiket, he,he (padahal hari Jum&#8217;at sore tuh katanya rame-ramenya apalagi jurusan yogya), tapi aku nekat ajah! pokoknya feeling yakin dapat tiket. Begitu keluar kantor ternyata didepan kantor orang&#8211;orang yang mau Jumatan sudah ramai, kulihat jam. Ternyata sudah pukul 11.30, ya udah Jumatan dulu lah batinku (perasaan ini Jumatan terlama yang pernah kuikuti, kayaknya khotbahnya panjaaang banget) bolak-balik ku lihat jam, maklum pikiran sudah di rumah bersalin aisyiyah klaten he,he. Oh iya tidak lupa waktu ngisi kotak Infak jumlahnya agak banyak  dari biasanya (oh ya ini jadi kebiasaan baru ketika istri hamil), nggak tahu yha ini terinspirasi dari baca bukunya Ust Yusuf Mansur tentang sedekah yang manfaatnya adalah menjauhkan dari bencana dan dijanjikan bakal dapat balasan yang berlipat-lipat (10x). Dalam hati aku senyum sendiri, mau sedekah kok kalo ada &#8220;maksudnya&#8221; , he,he. Pasti diketawain malaikat nih. Yha biarin aja daripada nggak!!yang penting &#8220;usaha&#8221; kan? he,he. Jadi menurut buku itu gini itung-itunganya, kita bayangin kalo operasi melahirkan itu kira-kira butuh biaya misalnya 8 juta, maka menurut Ust Yusuf Mansur kalo mau dapat 8 juta harus sedekah minimal 8oo ribu (sepersepuluhnya), kalo nggak salah lho!!. Kalo salah yha mohon maaf sama Pak Ustad Yusuf Mansur berarti keliru menafsirkan buku beliau ha,ha. Tapi  ikhtiar juga iya,  yang jelas biaya kalaupun operasi lagi (terpaksanya)  sudah ada, hasil mengakses situs nabung.com dan ngirit.co.id, he,he.</p>
<p>Kembali ke cerita tadi, habis Jumatan aku langsung berangkat ke Stasiun Gambir. lho katanya mau naik pesawat kok ke Gambir?mau naik pesawat Argo Dwipangga?he,he sabar dulu bos, maksudnya ke Gambir mau naik Bus yang jurusan Soekarno-Hatta, kan Busnya ngetem disana?aku juga nggak tahu kenapa Bus Bandara Ngetem di Stasiun, mungkin pemerintah mau bikin jaringan transportasi yha? jadi dari tiap terminal, stasiun dan bandara ada rangkaian jalur transportasinya. Mbuh Lah! Yang penting dapat bis yang pertamax lewat. Akhirnya setelah bermacet-macet sebentar (soalnya Bus lewat depan Istiqlah dan tahu sendiri kalo habis Jumatan), sampai di Bandara sudah jam setengah dua siang. Aku turun di terminal keberangkatan dalam negeri sambil lihat-lihat loket-loket maskapai kaya lion air, sriwijaya, batavia dll. Aku turun terus pergi ke loket  dan hampir semua menjawab &#8220;tiket ke Yogya dan Solo&#8221; HABIS!!!. Padahal dah jalan dari ujung ke ujung lho1? Waduh gimana nih. batinku bingung campur panik. Ada juga sih yang nawarin tiket tapi rata-rata di atas jam 6 malam dan harganya &#8220;ugal-ugalan&#8221; he,he, yah kalo jam 6 sih sami mawon, samapai disana kemungkinan besar dah lahir.  Sempat kepikiran mau balik ke Gambir naik Kereta Api saja, sama-sama terlambat ini, batinku. Toh disana sudah ada Ibuku, adikkku, Ibu istriku alias ibu mertua yang kubooking seminggu sebelumnya buat nemenin anaknya (ini permintaan istri lho? tapi  demicalon  cucunya  beliau seneng-seneng aja kok)</p>
<p>Lagi enak-enaknya melamun tiba-tiba aku dideketin sama Bapak-Bapak, orangnya cukup &#8220;mencurigakan&#8221;. umurnya kira-kira 50-an, kulitnya hitam, memakai pakaian atasan putih kayak orang kantoran dengan mata yang keruh kurang tidur. &#8220;Butuh tiket Mas?mau kemana?&#8221;. Aha ini pasti CALO, batinku. Kujawab dengan ogah-ogahan &#8220;Ke Yogya Pak, tapi nggak dapat tiket habis semua&#8221;, jawabku sambil melengos mau pergi. Eh ternyata Bapak ini punya tiket atas nama orang lain yang nggak jadi berangkat jam tigaan (tepatnya lupa). Kulihat Jam sudah Jam 02.15. Iseng aja kutanya, &#8220;berapa Pak?&#8221;. Akhirnya setelah tawar menawar &#8220;sengit&#8221; aku dapat tiket juga!! Eh tapi yang bikin nggak enak ada lagi lho, ternyata tiketnya dibawa temannya yang lain. Lho gimana sih? kataku sewot. Dah kuputuskan nggak jadi, males takut kenapa-kenapa. Jangan-jangan ini penipuan kayak dikoran-koran!! Aku naik Bis Bandara (yang putarputar dari terminal satu ke yang lain) mau cari Bus Yang ke Gambir !! Eh ternyata temenya Bapak ini disitu (di dalam Bus) dan bawa tiketnya, ha,ha. Rupanya tadi barusan ditelepon Bapak tadi suruh nganter tiket. Jadilah transasksi di atas Bus Bandara, aku nggak jadi turun dari bus bandara bablas balik ke terminal keberangkatan. Sampai di depan terminal keberangkatan yang tertera di tiket aku turun.  Nggak perlu Cek _in (udah Cek In atas nama orang lain) terus bablas  masuk ke ruang tunggu. Lancar Yha? Eit tunggu dulu,  ternyata pesawat ditunda keberangkatanya, katanya karena di Yogya cuaca buruk (ada angin topan) dan pesawat nggak ada yang berangkat kesana. Ya udah pasrah lagi deh.</p>
<p>Selama di bandara aku terus dikabari perkembangan kondisi istriku, berita terakhir, sampai Jam 03.00 istriku sudah di ruang bersalin, perawat sudah siap, dokter sudah memantau. Jadi dulu waktu masih kontrol di dokter, istri sudah janjian sama Pak Dokter minta ditunggui  kalau mau melahirkan baik normal maupun operasi, biar tenang katanya. Dokternya ternyata menepati janji, sejak istriku masuk ke ruang bersalin dokter secara berkala meminta laporan perkembangan kondisi istriku, waktu lahirnya anakkupun pak dokter ikut mendampingi. Trims Pak Dokter Usman!!</p>
<p>Kadang ketika telepon samar-samar kudengar istriku lagi mengaduh kesakitan, yang ini betul-betul bikin aku tambah stress. Ini karena istriku jarang banget nangis atau mengeluh, jadi aku nggak biasa ndengerin istriku mengeluh apalagi nangis.</p>
<p>Setelah menunggu cukup lama dan diselingi pembagian makan sore, makanan penutup mulut kali yha soalnya pesawat delay nggak kira-kira sekitar pukul 05.00 sore pesawat berangkat. Cuaca ketika itu hujan gerimis tapi langit masih terang. Seperempat Jam pesawat di udara cuaca berubah drastis langit gelap gulita, pesawat sempat goyang-goyang menerobos awan gelap, penumpang disampingku seorang bapak tua kulihat komat-kamit berdoa dengan khusuk, padahal tadi waktu udara cerah Bapak ini masih sempet godain mbak-mbak pramugari yang lewat, ha,ha, ha. Aku kebetulan duduk dekat jendela jadi bisa tahu persis keadaan diluar, bener-bener gelap!ujung sayap cuma terlihat samar-samar dan pesawat kurasakan seperti menanjak ke atas terus, suaranya mirip truk yang kelebihan muatan di tanjakan alas roban. Ngeri sih! tapi aku gak begitu perduli, karena yang ada dipikiranku yha cuma gimana anak istriku soalnya ketika mau berangkat tadi Ibu mertua telepon minta izin operasi, sebab katanya istriku sudah tidak kuat sakitnya. Istriku minta bedah cesar ke Dokter.  Ya aku setuju saja, yang penting sehat, terus telepon tak matikan.</p>
<p>Cuaca mulai cerah ketika sudah masuk yogyakarta, dari atas terlihat landasan bandara Adisucipto Yogya. Ketika mendarat cuaca masih gerimis, rupanya cuaca memang benar-benar buruk, barusan ada angin topan (lesus kalo orang jawa bilang), karena paginya ketika aku baca koran KR ada laporan tentang angin ribut dan  gambar baliho roboh dan rumah yang rusah diterjan angin topan. Dan ternyata pesawat yg kutumpangi adalah pesawat  pertama yang mendarat pasca cuaca buruk tadi, kata adikku yang sore itu menjemputku.  Hal pertama yang kulakukan adalah menelpon ke istri, karena perkiraanku kalau di operasi kemungkinan besar sudah lahir  (dulu anak yang pertama nggak sampai setengah jam).</p>
<p>Yang menerima ternyata ibuku, beliau memberitahu kalau anakku baru saja lahir. Aku tanya laki-laki atau perempuan? Ibuku bilang, sebentar mau ditanyakan, ternyata ibuku masuk ke ruang bersalin, jadi bener-bener baru lahir, mungkin pas pesawat mendarat tadi, batinku.  Di ujung telepon sana samar-samar kudengar tangis bayi, waduh, mendengar tangisnya saja aku senang sekali. Ternyata anakku laki-laki, beratnya 3 kilogram dan sambil ketawa ibuku bilang, kulitnya hitam!! mirip ayahnya, ha,ha (setelah besar ternyata nggak hitam-hitam amat kok, he,he) dan yang bikin surprise ternyata anakku lahir normal!!!!</p>
<p>Gimana ceritanya!!!tadi kan dah minta izin operasi? nah rupanya itulah kepandaian Pak Dokter dan tim Perawat, Jadi Pak Dokter tahu kalau kondisi anak istriku cukup bagus dan bisa lahir normal, cuma istriku nggak kuat menahan sakit. Jadi Pak Dokter dengan di bantu Ibu-ibu Perawat melakukan &#8220;sandiwara&#8221;. Ruang operasi disiapkan, istriku didandani kayak mau dioperasi, trus di bawa pakai &#8220;gledekan&#8221; (tandu yang buat bawa pasien) tapi cuma muter-muter aja, trus balik lagi ke tempat bersalin, bukan ke ruang operasi, mereka terus mengulur waktu, bilang dokternya (mungkin dibilang dokternya banyak kali yha?) belum datang, masih  perjalanan, sedang disiapkan dll. Dan setelah Dokter datang, istriku  cuma diputer-puter aja naek &#8220;gledekan&#8221;, kan namanya orang lagi kesakitan  (bahasa jawa &#8220;nglarani&#8221; red) jadi nggak tahu, apalagi protes kalau dibohongi. Nah bersamaan dengan itu  bayinya dah menekan/memutar mau keluar,  dan setelah situsinya dirasa cukup siap (termasuk dah bukaan sekian), istriku  diberi aba-aba untuk untuk mengejan, dengan kerjasama yang kompak antara istri, perawat dan  Pak Dokter  anakkupun akhirnya bisa lahir dengan &#8220;status&#8221; normal. (begitu yang diceriterakan oleh  kanjeng ibu).</p>
<p>Aku berlari keluar  dengan perasaan  senang luar biasa,di lorong eskalator menuju tempat parkir, aku berlari saking nggak sabar dan senangnya.  Adikku dan Bapak mertua yang menunggu di tempat parkir, tertawa melihatku ngos-ngosan. Terima kasih ya Allah, memberi yang terbaik buatku. Terima Kasih juga Bapak, Ibu, Saudara, Temen, Pak Dokter, Bu Perawat. Untuk istriku : I love you, you&#8217;re the Best.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=34&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2010/02/10/rayyan-aryo-panuksmo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ekobr.files.wordpress.com/2009/03/dsc00365.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSC00365</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kisah ayah (disunting dari kaskus)</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2010/01/07/kisah-ayah-disunting-dari-kaskus/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2010/01/07/kisah-ayah-disunting-dari-kaskus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 01:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/2010/01/07/kisah-ayah-disunting-dari-kaskus/</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;.. Akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya. Lalu &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2010/01/07/kisah-ayah-disunting-dari-kaskus/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=99&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekobr.files.wordpress.com/2010/01/inge_terboven_on_hitler.jpg"><img src="http://ekobr.files.wordpress.com/2010/01/inge_terboven_on_hitler.jpg?w=283&#038;h=300" alt="" title="Inge_Terboven_on_Hitler" width="283" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-98" /></a><br />
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya&#8230;..</p>
<p>Akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya.<br />
Lalu bagaimana dengan Ayah?<br />
Mungkin karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,<br />
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?</p>
<p>Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,<br />
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?</p>
<p>Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil&#8230;&#8230;<br />
Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.<br />
Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu&#8230;<br />
Kemudian Ibu bilang : &#8220;Jangan dulu Yah, jangan dilepas dulu roda bantunya&#8221; ,<br />
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka&#8230;.</p>
<p>Tapi sadarkah kamu?</p>
<p>Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.</p>
<p>Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.<br />
Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : &#8220;Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang&#8221;</p>
<p>Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?</p>
<p>Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :<br />
&#8220;Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!&#8221;.<br />
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.</p>
<p>Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.</p>
<p>Ketika kamu sudah beranjak remaja&#8230;.<br />
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: &#8220;Tidak boleh!&#8221;.</p>
<p>Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu?<br />
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat &#8211; sangat luar biasa berharga..</p>
<p>Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu&#8230;<br />
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu&#8230;.</p>
<p>Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,<br />
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?<br />
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia&#8230;. :&#8217;)<br />
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..</p>
<p>Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?</p>
<p>Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.<br />
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir&#8230;<br />
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut &#8211; larut&#8230;<br />
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .</p>
<p>Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?</p>
<p>&#8220;Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah&#8221;</p>
<p>Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.<br />
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata &#8211; mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti&#8230;<br />
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah</p>
<p>Ketika kamu menjadi gadis dewasa&#8230;.<br />
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain&#8230;<br />
Ayah harus melepasmu di bandara.</p>
<p>Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?</p>
<p>Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini &#8211; itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .<br />
Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat.<br />
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata &#8220;Jaga dirimu baik-baik ya sayang&#8221;.</p>
<p>Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT&#8230;kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.</p>
<p>Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.<br />
Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.</p>
<p>Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan&#8230;<br />
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : &#8220;Tidak&#8230;. Tidak bisa!&#8221;<br />
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan &#8220;Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu&#8221;.</p>
<p>Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?</p>
<p>Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.<br />
Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.<br />
Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat &#8220;putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang&#8221;</p>
<p>Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.<br />
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..<br />
Karena Ayah tahu&#8230;..<br />
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.</p>
<p>Dan akhirnya&#8230;. .<br />
Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia&#8230;..</p>
<p>Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?<br />
Ayah menangis karena sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa&#8230;.</p>
<p>Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: &#8220;Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik&#8230;.<br />
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik&#8230;.<br />
Bahagiakanlah ia bersama suaminya&#8230;&#8221;<br />
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk&#8230; .<br />
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih&#8230;.<br />
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya&#8230;.<br />
Ayah telah menyelesaikan tugasnya&#8230;.</p>
<p>Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita&#8230;<br />
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat&#8230;<br />
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis&#8230;<br />
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .<br />
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa &#8220;KAMU BISA&#8221; dalam segala hal..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=99&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2010/01/07/kisah-ayah-disunting-dari-kaskus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ekobr.files.wordpress.com/2010/01/inge_terboven_on_hitler.jpg?w=283" medium="image">
			<media:title type="html">Inge_Terboven_on_Hitler</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Negeri para juragan</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/negeri-para-juragan/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/negeri-para-juragan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 04:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[hari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[juragan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[sebenarnya mau nulis ini dah lama soalnya ini berhubungan dengan perilaku sebagian masyarakat kita, bangsa Indonesia yang tercinta ini. Ceritanya begini, dulu waktu masih sma aku punya kenalan, nah kenalanku bekerja sebagai sopir angkutan umum. Mobil yang dipakai buat usaha &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/negeri-para-juragan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=91&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebenarnya mau nulis ini dah lama soalnya ini berhubungan dengan perilaku sebagian masyarakat kita, bangsa Indonesia yang tercinta ini. Ceritanya begini, dulu waktu masih sma aku punya kenalan, nah kenalanku bekerja sebagai sopir angkutan umum. Mobil yang dipakai buat usaha punya orang lain alias sewa, ya kerjaanya setiap hari ngumpulin uang setoran dari penumpang, berangkat pagi pulang sore. Nah suatu saat si Kenalan ini dapat bagian warisan dari orang tuanya. Sama si kenalanku ini uangnya di beliin mobil angkutan umum sesuai bidang yang dikuasainya, ide brilian kan?sampai disini memang kelihatan brilian, tapi yang bikin aku heran tuh kelanjutanya. Ternyata mobil ini sama dia nggak disopiri sendiri tapi malah disewakan ke sopir lain, nah kenalanku ini tiap sore dapat setoran dari sopir yang menyewa mobilnya alias Jadi Juragan. Satu dua bulan awalnya lancar,  setoran jalan terus si Kenalanku ini leha-leha di rumah disetori oleh sopirnya, he,he. Tapi namanya mobil dipegang orang lain ya lama-lama muncul masalah disana-sini alias rajin ke bengkel. Si kenalan ini meskipun mantan sopir, tapi nggak ngeh masalah mesin walhasil dia sering nombok untuk perbaikan mobilnya, apalagi dia kan juragan, gengsi dong! masak juragan keluar masuk kolong betulin mobil, he,he.  Bulan demi bulan mobilnya makin tua makin sering ke bengkel singkat kata akhirnya mobil dijual dan kenalan ini punya hutang yang cukup lumayan. Jadi awalnya nggak punya mobil, nyupir mobil orang lain dan bisa hidup walaupun pas-pasan tapi begitu punya mobil sendiri malah bangkrut dan punya utang. Ada lagi cerita yang lain, jaman dulu waktu awal-awal kerja, di kantorku disamping pegawai tetap maksudnya PNS ada juga pegawai tidak tetap, mereka sering disebut pegawai honorer atau harian. Pegawai ini tugasnya ya bantu-bantu para PNS &#8220;resmi&#8221; itu, mulai bikin laporan, bikin kopi, menata berkas dll, jadi semua tugas diselesaikan para &#8220;honorer &#8221; ini. Bahkan pernah aku berada di suatu seksi jumlah pegawai honorer sama  PNS-nya banyak honorernya, ha,ha. Lho kok bisa?ternyata yang membawa pegawai honorer atau harian itu yha PNS-PNS itu. Trus yang bayar siapa?Ada yang dibayar seksi itu ada juga yang dibayar sama PNS yang membawanya (ha,ha,ha). Nah ini yang lucu. Jadi mereka punya pegawai sendiri di dalam kantor alias jadi Juragan. Semua kerjaan mereka yang ngerjain yha honorernya itu, dia mah datang tanda tangan atau pergi entah kemana. Nah untungnya sekarang praktek kayak gitu udah nggak boleh lagi karena dibelakang hari ternyata para pegawai honorer itu banyak yang nuntut macem-macem salah satunya diangkat jadi pegawai, jadi mungkin pemikiran para bos &#8220;daripada bikin pusing dibelakang hari, mendingan nggak boleh aja&#8221;. Trus gimana nasib para pegawai &#8220;juragan&#8221; tadi? ya nggak tahu soalnya aku dah lama pindah dan di kantorku yang baru pegawai honorer kayak gitu nggak ada lagi. Mungkin para pegawai &#8220;juragan&#8221; lagi pada belajar ngetik komputer atau bikin laporan?ha,ha,ha (karena setahuku banyak dari beliau-beliau ini yang nggak bisa komputer) mungkin pikirnya &#8220;masak juragan belajar komputer?&#8221;, ha,ha,ha</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=91&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/negeri-para-juragan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEBUAH PERJALANAN HIDUP  (A TRUE STORY)</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/sebuah-perjalanan-hidup-a-true-story-2/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/sebuah-perjalanan-hidup-a-true-story-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:47:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[April 1984 Menjelang Ujian Akhir SMP… Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku. Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/sebuah-perjalanan-hidup-a-true-story-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=62&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>April 1984<br />
Menjelang Ujian Akhir SMP…</p>
<p>Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku. Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman sekantor Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin. Aku mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang, lalu air mata yang tumpah bak banjir bandang. Bapak dipecat, karena menyelewengkan dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan wanitanya di kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare, tiga puluh kilometer dari rumah kami. Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan berselingkuh dengan istri orang. Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku sudah bisa membaca hubungan kedua orang tuaku. Namun baru kali ini kulihat Ibu begitu terpukul. Tentu, dengan dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul lagi di tungku keluarga kami. Sementara lima orang anak perempuan setiap hari membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram durja, semangat belajarku hilang seketika.</p>
<p>Mei 1984<br />
Ujian Akhir, 03.00 Pagi…</p>
<p>Suara lantunan ayat-ayat suci membangunkanku dari lelap. Ibu… Begitu biasanya beliau membangunkan kami untuk shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul Ibu. Mata adikku masih memerah menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, &#8220;Ayo, katanya ingin berdoa, Tini ingin minta apa?&#8221; Malam begini dingin menyambut kami di kamar mandi. Air terasa seperti butiran es. Kuusap mataku dan mata Tini sambil tersenyum, sekejap kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap sudah kantuk yang memberati mata. Ibu menyambut kami dengan senyum, tapi&#8230;.matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. &#8220;Mana adik-adikmu yang lain, Nduk?&#8221; kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu. Habis, sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti, maklum, mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar. Ibu menemani sambil meneruskan tadarus Qur&#8217;an-nya. Ibu&#8230;. Bagaimana orang sealim Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak ada Bapak, berarti aku juga tidak ada.</p>
<p>Akhir Mei 1984</p>
<p>Akhirnya, selesai sudah ujian akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku mulai bisa memikirkan yang lain untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau bagaimana lagi, Ibu memutuskan menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus Bapak dari penjara. &#8220;Bagaimana pun dia bapakmu, Wuk. Sejahat dan sebejat apa pun kelakuannya, darahnya lah yang mengalir di tubuhmu.&#8221; Aku juga tak tahu pasti harus bagaimana. Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan rumit ini. Tapi Ibu butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnya lah yang bisa melakukan itu. Ya, mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang seperti menunggu datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci, ada juga rasa asing yang tak bisa kumengerti. Entahlah, dari dulu kami memang tak bisa dekat. Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya perempuan. Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja. Suatu sore, saat matahari senja merah saga memenuhi langit, Bapak benar-benar pulang. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pintu rumah. Dan Ibu menyambutnya seperti biasa, dengan mencium tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama. Tanpa beban, seolah tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami. Kucari dendam dimata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu ikhlas dan tabah. Sementara hatiku sudah mulai tertorehi luka.</p>
<p>Agustus 1984</p>
<p>Perekonomian keluarga kami benar-benar terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan kuliah. Jangankan untuk mendaftar SMA, untuk makan sehari-hari pun mulai kesulitan. Bapak berpamitan untuk mencari kerja di Bogor. Memang di kota kecil seperti Kediri, mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang yang namanya sudah cacat seperti Bapak. Ibu mengambil alih perekonomian dengan membuka warung pecel di depan rumah. Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung pecelnya. Sore hingga malam membuat krecek, makanan ringan dari irisan singkong kering yang digoreng dan dibumbuhi gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu sekuatnya. Aku punya kewajiban moral untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa lagi..?? Bangun pukul empat pagi kini tak terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini membersihkan rumah. Setelah beres, kami membantu Ibu menyiangi sayuran. Ketika adik-adikku berangkat sekolah aku mulai menyiapkan potongan-potongan singkong untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari mereka, aku dan Ibu membungkus krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa kuedarkan ke warung-warung dan pasar Kandat. Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku sangat bangga pada Ibu. Di tengah himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan kepada-Mu, terus mengajari kami bersabar, dan terus membimbing kami dengan cintanya. Ya Allah, berikanlah segala kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, Yaa… Allah, bahwa kami adalah putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin&#8230;</p>
<p>Agustus 1986</p>
<p>Bapak datang. Datang…!!! Setelah sekian lama tanpa kabar dan kiriman apa pun. Datang dengan sederet tuntutan dan lecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran anak laki-laki yang tak mampu dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang membuat darahku berpacu ke ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan mempunyai seorang anak laki-laki. Tuntutan untuk menjual sisa tanah,dengan alasan anak laki-laki lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan Bapak saat kami kesulitan untuk sekedar mengisi perut. Entah keberanian apa yang membuatku lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak itu sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Ibu yang tersimpuh di atas tubuhku dengan isak pelan, dan umpatan kasar Bapak, &#8220;Perempuan sialan, perempuan pincang. Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu punya istri seperti kamu, dasar pincang…!!!&#8221; Kali ini giliran Ibu yang mendapat tamparan Bapak. Sakit&#8230;.sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu. Kaki Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti ia tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh. Kupandang Bapak dengan mata menyala. Biar&#8230;..biarlah Bu, Bapak mengambil tanah itu. Kita buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak mau. Aku berjanji, aku bertekad, akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan adik-adikku.</p>
<p>Januari 1990<br />
Rumah Makan Padang &#8220;Siang Malam&#8221;, Gringsing, Kendal</p>
<p>Aku membawa truk bermuatan kelapa memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah perjalanan lagi menuju Jakarta. Ahmad dan Pak Gono membuka mata. Dengan sopan aku menyilahkan mereka untuk beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu mencari musholla, shalat Isya&#8217;. Celana hitam, jaket gombrang coklat, dan jilbab kaos hitam telah menyulapku menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin juga kenal denganku. Karena itu aku memilih tempat ini sebagai tempat istrirahat bila nyopir ke arah barat. Selain lingkungannya apik, baik, juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat sejenak. Sesekali bahkan Bu Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka. Sementara aku istirahat, Ahmad biasa mencuci kaca depan truk, mengisi air radiator, mengecek mesin, dan ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi hangat di samping jok untuk persiapan nanti. Truk ini milik Pak Jono, teman Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan sistem sewa. Dulu, hampir tiap hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa transportasi ini. Kini tinggal memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah yang datang apabila membutuhkan truk sekaligus sopirnya.<br />
Aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak, tidak karena itu dunia laki-laki yang keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak punya pilihan lain. Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang paling banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi uang lima puluh ribu sampai seratus ribu. Bahkan bila musim panen, aku bisa memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah… Karena selain menyopir, aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang, semangka ke beberapa kota sekeliling Kediri. Tentu, dengan bagi hasil dengan Pak Jono.<br />
Ibu terus berjualan pecel dan membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena Sutini dan Sulastri sudah kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Sedang Partinah memilih ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bahagia rasanya melihat mereka terus sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah mengecewakan lelehan keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk membahagiakan Ibu dan kakaknya yang sopir truk ini. Sekali waktu, Tini pernah marah padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga. Tapi adikku itu mengkeret begitu melihatku memandang tajam ke arahnya. Adikku&#8230;.maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja…!!! Kalian semua jadilah manusia yang berhasil. Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah yang benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah membuat Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.</p>
<p>Juli 1993<br />
Rumah Makan &#8220;Ayem Tentrem&#8221;, Pelabuhan Ketapang</p>
<p>Sudah larut malam ketika aku beristirahat, menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir tersesat. Deretan truk terparkir dalam keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari musholla dan tempat nyaman untuk menyantap rantang makanan bekal dari Ibu. Menjelang pukul dua, kudengar keributan di sekitar trukku. Ahmad berteriak-teriak, aku tertegun. Segerombolan preman tengah merubungnya. Tukang palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik kayu gelondongan yang kuangkut tergigil pucat pasi di sisi truk. Pemalakan tidak tanggung-tanggung karena kami orang baru, diharuskan membayar biaya keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak mereka melongo begitu tahu sopirnya wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan itu untuk bersikap lemah, terlebih ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan halal, hak asasi setiap umat untuk meneruskan hidupnya. Setelah gertakan untuk melapor polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni tantangannya. Ahmad satu tingkat di bawahku di perguruan Perisai Diri. Jadi aku bisa mengandalkannya. Seratus ribu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri membutuhkan biaya untuk praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua lawan tujuh. Kami bertarung sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang yang bertindak sebagai pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku ku arahkan ke si brewok, ia menohok dari samping. Crasss&#8230;!!! kaki berbalut sepatu kets-ku berlumuran darah. Perih…darah keluar dengan deras. Aku masih bisa menangkis dua, tiga serangan, setelah itu gelap. Saat sadar aku telah berada dalam salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi leher dan punggung. Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku. Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena lima bulan lagi Sundari lulus SMA.</p>
<p>Februari 1995</p>
<p>Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh spanduk dan karangan bunga. Subhanallah, matahari pagi pucuk-pucuk pinisium ikut tersenyum memandang kami. Hari ini Sutini disumpah menjadi seorang dokter. Map hitam berlogo almamater diserahkan kepada Ibu dan aku sambil menahan tangis. “Ini&#8230;.Untuk Ibu dan Mbak Tiwuk.” Kupeluk adikku, kuusap keningnya. &#8220;Seandainya setiap kakak di dunia ini seperti Mbak Tiwuk&#8230;..,&#8221; ujarnya dengan mata basah. &#8220;Seandainya semua adik di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak melakukan apa pun,&#8221; kami berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan depan akan mengakhiri masa lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda sholeh yang bulan kemarin bersama keluarganya mengkhitbah Tini dirumah kecil kami. Jemputlah masa depanmu Adikku&#8230;.Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.</p>
<p>Mei 1997</p>
<p>Rumah Makan &#8220;Baranangsiang&#8221;, Bogor</p>
<p>Menyebut kota ini menimbulkan luka lagi yang menganga, “B a p a k&#8230;..” pelan ku eja namanya. Nama laki-laki yang seharusnya menanggung beban di atas pundakku. Pernikahan Tini kemarin beliau hadir, juga saat Tinah diakadkan. Semanis apa pun wajah kupasangkan, tak bisa membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara kami. Hati ini terlanjur sakit. Pada saat kupandang wajah Ibu, masih dengan tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu, Ibu. Sementara hanya setitik hormat yang masihku punya. Menurut berita yang kudengar, usaha Bapak di Bogor maju pesat, dengan seorang istri dan dua anak laki-laki yang diidamkannya. Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan mengurai kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena aku tak mau selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil dengan apa yang telah kami terima selama ini…?? Sungguh aku bersyukur&#8230;&#8230;</p>
<p>Mei 2000</p>
<p>Rumah berdinding setengah bata setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap dapur bahkan nyaris dorong. Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang makin mengental. Jika ada kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat adikku sudah mentas semua. Tinggal Sundari, itu pun sudah hampir mandiri, karena selain menyelesaikan S2, ia juga mengajar di sebuah yayasan. Kini perhatianku beralih ke Ibu. Ibu yang membesarkan kami dengan kedua tangannya, dengan kakinya yang terseok, yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di setiap malam, melalui puasa Senin-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan sabar dan cintanya.<br />
&#8220;Wuk, bisa nggak ya niat Ibu kesampaian. Ibu ingin sekali melihat Baitullah.&#8221; Satu kata itulah yang menjadi perhatianku kini. Maka, ketikaTini, Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk merenovasi rumah, kalimat itu kuulang pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan dan sumbangan mereka, aku berharap bisa memenuhi permintaan Ibu.</p>
<p>Juli 2000</p>
<p>&#8220;Dunia begitu indah karena kami memiliki kakak seperti engkau. Terimakasih, Mbak&#8230;.&#8221; Kueja kalimat itu berulang. Sebuah cincin permata berlian menyertai kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku berulang tahun. Aku memang selalu lupa dan tak pernah memikirkannya. Setitik air membasahi pipi, sudah berapa lama aku tidak menangis. Kucium kertas itu. Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena aku memiliki kalian, juga Ibu. Terima kasih yaa…Allah.</p>
<p>Februari 2001<br />
Garuda Indonesia, Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12</p>
<p>Pada Allah semua tujuan hidup bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali hidupku. Karena aku telah memandang semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit apa pun kenyataan akan tetap terasa indah. Inna ma&#8217;al &#8216;usri yusro, sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Allah akan memberi kemudahan itu pada setiap hambanya yang sabar. Sering aku tak percaya bisa melakukan semua ini, karena tugas itu nyaris usai.<br />
Allah Yang Maha Pemurah, telah memberiku kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis dengan cacat jantung bawaan seperti aku&#8230;&#8230; rasanya tak percaya. Allah, jika Engkau ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan Bapak, agar kebekuan ini mencair. Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa ku keluarkan, karena aku…Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek untuknya. Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu. Awan putih menyembul di balik kaca, berarak meniupkan simponi syahdu. Seolah aku sedang duduk di antaranya, membaca tanpa gerak bibir, bahasa yang santun dan dewasa, mengantarku dalam kedalaman rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu, akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu, lihat awan itu. Ia akan mengantar kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan. Kuusap lembut jemari kisut dan kasar itu. Ibu&#8230;.lelah guratan hidupmu, membayang pada raut wajah itu, tapi tak bisa mengurangi keagungan cinta milikmu. Ku kecup lembut dan kubawa tangan itu ke atas dada. Di bandara tadi, harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru. Dokter Sutini, Dokter Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari, juga suami-suami mereka dan keponakanku yang lucu-lucu, Hanif, Asfa, dan Abdus. Tawamu jernih dan tulus ketika mencium mereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang Pencipta, tanpa keluh dan putus asa. Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa yakin akan pertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi, memecah udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju muslimah yang menawarkan makanan. Kuambilkan satu untukmu, Ibu&#8230;. Garuda pun membelah angkasa menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Semakin jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan Kediri. Dan satu harapan lagi, dengan izin-Mu akan terwujudkan. Allah Maha Besar…<br />
dari email seorang sahabat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=62&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/11/30/sebuah-perjalanan-hidup-a-true-story-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Episode Memperbaharui Cinta   Oleh Bahtiar HS</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/episode-memperbaharui-cinta-oleh-bahtiar-hs/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/episode-memperbaharui-cinta-oleh-bahtiar-hs/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Sudah pukul 19.00 malam. Saatnya aku berangkat untuk mengejar pesawat ke Jakarta pukul 20.30. Traveling-bag sudah disiapkannya sejak pagi. &#8220;Pergilah,&#8221; katanya memandang mataku. &#8220;Ini belum waktunya. Kontraksinya bukan di fundus, tetapi di bagian bawah. Mungkin &#8230; sakit biasa.&#8221; Aku pun &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/episode-memperbaharui-cinta-oleh-bahtiar-hs/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=89&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah pukul 19.00 malam. Saatnya aku berangkat untuk mengejar<br />
pesawat ke Jakarta pukul 20.30. Traveling-bag sudah disiapkannya sejak<br />
pagi.<br />
&#8220;Pergilah,&#8221; katanya memandang mataku. &#8220;Ini belum waktunya. Kontraksinya<br />
bukan di fundus, tetapi di bagian bawah. Mungkin &#8230; sakit biasa.&#8221;<br />
Aku pun mengangguk berusaha yakin. Bagaimanapun ia seorang dokter. Dan,<br />
ia pun sudah aku bekali dengan alamat, no telp, dan ancar-ancar ke rumah<br />
bidan itu. Aku bahkan sudah meninggalkan pesan ke teman sekantor, jika<br />
sewaktu-waktu saat itu tiba, ia siap membantu.<br />
Keningnya segera kucium setelah tanganku diciumnya mesra. Dan tas itu<br />
sudah kuangkat untuk kugelandang ke pintu depan. Tangannya menyuruhku<br />
pergi, tetapi kutahu matanya tidak. Ia bahkan tidak beranjak dari<br />
tempatnya karena sakit yang tak terperikan itu. Apakah ini sudah<br />
waktunya? Tanya batinku mencari kepastian. Bukankah perkiraannya masih<br />
9-10 hari lagi?<br />
Kulihat kini mata itu basah.<br />
Sedetik kemudian aku putuskan, &#8220;Kayaknya lebih baik aku tak jadi pergi.&#8221;<br />
Begitulah kata-kataku meluncur dan tas kuletakkan kembali.<br />
Ia terkesima. &#8220;Nggak papa, ta, Mas?&#8221; tanyanya, sembari mengusap sembab<br />
matanya. &#8220;Aku nggak papa, kok. Kalaupun nanti ke bidan sendiri, aku<br />
bisa.&#8221;<br />
&#8220;Nggak. Aku bisa tunda acara di Jakarta besok.&#8221;<br />
Ia memelukku dalam isak.<br />
&#8220;Coba kita lihat sampai besok, &#8221; bisikku. &#8220;Jika sakit itu mereda, aku<br />
bisa ke Jakarta petangnya.&#8221;<br />
Ia mengangguk. Aku segera memapahnya berbaring.<br />
Kukontak teman seperjalanan. Dan kukatakan padanya keadaanku. Ia bisa<br />
mengerti. Segera aku ke kantor yang hanya 5 menit dari rumah untuk<br />
menitipkan data agar diserahkan ke anggota timku di Jakarta.<br />
Belum selesai mengcopy ini-itu, sebuah SMS masuk ke mailbox HP-ku. &#8220;Mas,<br />
jangan lama-lama, ya?&#8221; begitu isinya. Dari isteriku. Secepat kilat<br />
kuserahkan data yang belum lengkap itu ke teman seperjalananku. Aku<br />
segera balik ke rumah.<br />
Ternyata benar. Tak menunggu menit berlalu, ia sudah mengeluarkan<br />
tanda-tanda itu. Kontraksi di bawah perut yang semakin menguat<br />
membuatnya nyaris tak kuat berdiri, bahkan beringsut. Sepercik cairan<br />
merah atau coklat, aku tak tahu pasti, semakin menambah keyakinan bahwa<br />
saatnya telah tiba. Maju dari perkiraan.<br />
Kutelpon temanku yang mau meminjami mobil. Segera aku berbenah. Cepat.<br />
Tak ada waktu menunggu. Dua potong jarit, setumpuk popok, stagen,<br />
pakaian ganti luar dalam, softtex, minyak but-but, spirulina. Semua<br />
kumasukkan asal-asalan dalam tas kuning yang sudah disiapkannya jauh<br />
hari.<br />
Mobil pinjaman teman segera datang. Dan ia pun kubawa pergi. Sementara<br />
aku mengatakan padanya untuk tenang dan terus bertahan, aku sendiri<br />
menyumpah-serapahi mobil-motor di depanku yang tak segera beranjak<br />
ketika lampu lalu-lintas sudah kuning berkelip-kelip menuju hijau.<br />
Sementara aku katakan padanya sebentar lagi sampai di tempat tujuan, aku<br />
sendiri tegang: penginnya ngebut karena tujuan masih jauh, tapi tak<br />
mungkin.<br />
Ketika akhirnya sampai di tujuan, hujan turun gerimis dan dia sudah buka<br />
10! Bu Is, bidan kami, segera beraksi. Suntikan, tabung oksigen,<br />
selimut, sarung tangan, botol-botol cairan. Lampu-lampu dinyalakan.<br />
Celemek dipakaikan. Sementara ia, yang telah menyiapkan tasku sejak<br />
pagi, meringis menahan sakit di atas pembaringan. Bu Is menyuntik seraya<br />
memegang-megang perut buncitnya. Asistennya menyiapkan ember.<br />
Aku menggenggam tangannya. Aku memegang keningnya. Peluh bercucuran.<br />
Dan kami semua menunggu detik-detik itu.<br />
Tak berapa lama, ia mengejan. Bu Is memberi aba-aba. Aku menggenggam<br />
lebih erat tangannya. Ia mengambil napas panjang. Ia mengejan lagi.<br />
Suaranya seperti ingin menghentakkan sesuatu yang sangat berat. Wajahnya<br />
pias bertaburan keringat. Aku komat-kamit berdoa sambil mengusap<br />
titik-titik air yang terus mengalir di seluruh wajahnya.<br />
Ia berhenti sejenak lagi, mengambil napas panjang lagi, dan mengejan<br />
lagi! Bu Is memberi aba-aba. Aku pucat. Kudengar kemudian suara seperti<br />
karet yang teregang begitu kuat, melewati batas maksimal regangannya.<br />
Seperti mau putus. Dan kulihat kepala itu. Perlahan, di sela riuh<br />
aba-aba Bu Is, ejanan dan erangan dirinya, dan suaraku sendiri yang<br />
menguatkannya untuk terus mendorong. Terus! Dorong! Kini kulihat<br />
perlahan leher, lalu punggung, tangan, dan akhirnya kaki keluar cepat<br />
diikuti &#8230; byoorrr! Ketuban mengalir laksana air bah. Putih. Bening<br />
seperti air beras.<br />
Ia terengah serupa habis mengangkat beban ribuan karung. Terkulai<br />
pucat-pasi. Lelah tiada tara. Kemudian terdengar oek-oek memecah malam.<br />
Hujan gerimis di luar terdengar jelas menusuki atap genting.<br />
&#8220;Laki-laki, Mas,&#8221; Bu Is memberi kabar seperti angin sejuk mengaliri<br />
padang gersang. Isteriku tersenyum, dan sepertinya semua yang dialaminya<br />
seketika hilang, tergantikan dengan kegembiraan yang tak tergambarkan.<br />
Aku tersenyum padanya. Laki-laki, bisikku padanya mengulang. Ia<br />
menggenggam erat tanganku.<br />
&#8220;Aku capek sekali, &#8221; katanya.<br />
Tapi kutahu, sinar matanya menyiratkan suka-cita.<br />
Alhamdulillah! Allahu Akbar! Laki-laki, sama denganku. 3,8 kg. Lahir per<br />
vaginam. 12 Pebruari 2006 jam 21.00 WIB.<br />
Seketika nyawaku saat itu serasa menjadi rangkap!<br />
***<br />
Persalinan merupakan peristiwa besar penuh misteri. Peristiwa<br />
berdarah-darah.<br />
Ia seperti sebuah garis batas yang mengkhawatirkan. Tak jarang<br />
mengerikan. Barang siapa melaluinya seperti halnya melewati batas antara<br />
hidup dan mati. Ia harus dilakoni bukan oleh seorang pria gagah-perkasa,<br />
melainkan seorang wanita dengan segala kelemahannya. Saking beratnya<br />
episode ini, Rasul menimbangnya sebagai sama dengan jihad di medan<br />
peperangan.<br />
Pernahkah Anda mengalami keadaan ini. Isteri sudah berkontraksi penuh.<br />
Bidan lalu memecah ketuban untuk memperlancar persalinan. Tetapi ketika<br />
memeriksa, ia seperti berteriak histeris, &#8220;Bu, ini bukan kepala! Bayinya<br />
sungsang! Saya tidak berani. Tunggu, tahan dulu! Saya akan panggilkan<br />
dokter!&#8221;<br />
Ia lalu menelepon dokternya setengah berteriak-teriak seakan-akan seekor<br />
anjing galak sudah bersiap menggigit kakinya. Sementara Anda, seorang<br />
laki-laki perkasa yang hanya bisa bengong dan tak tahu harus berbuat apa<br />
melihat isteri Anda tersiksa begitu rupa. Di saat itulah Anda akan<br />
merasakan betapa bayang kematian terasa di depan mata dan Anda betapapun<br />
perkasanya seperti tiada berguna. Betapa kekhawatiran akan kehilangan<br />
seseorang, detik itu, menghantui diri Anda.<br />
Saya pernah mengalaminya saat kelahiran anak saya kedua.<br />
Ini kali keempat saya mendampingi isteri melewati garis batas itu.<br />
Tetapi, rasanya seperti mendampingi proses kelahiran anak yang pertama,<br />
kedua, dan ketiga. Selalu saja timbul pertanyaan itu: akankah masih bisa<br />
menjumpai senyumnya setelah episode ini?<br />
Melihatnya meringis menahan sakit, menggenggam tangannya ketika<br />
mengejan, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia mengeluarkan<br />
buah hati kami, sungguh merupakan episode yang menggetarkan. Dan,<br />
sehabis itu, cinta ini seperti semakin tumbuh. Menjulang. Apakah memang<br />
cinta justru akan menemukan titik puncaknya ketika dihadapkan pada<br />
situasi antara hidup dan mati? Di saat kemungkinan hidup sama tipisnya<br />
dengan kemungkinan tidak menjumpainya lagi?<br />
Karena sebab ini pulalah, saya berupaya untuk selalu mendampinginya pada<br />
peristiwa berdarah-darah itu. Melihatnya bergulat maut, membuat saya<br />
tidak akan pernah tega melukai hatinya. Apalagi memukulnya. Sungguh, apa<br />
yang saya sandang, apa yang saya kerjakan sejak keluar pagi dan pulang<br />
petang untuk mereka yang di rumah, tidaklah sepadan dengan apa yang<br />
harus dialami wanita perkasa itu.<br />
Wahai! Betapa benar sabda Rasul SAW bahwa sebaik-baik suami adalah yang<br />
terbaik akhlaknya kepada isterinya. Dengan membandingkan pengorbanan<br />
pada peristiwa persalinan ini saja, rasanya, Anda, para suami tidak ada<br />
apa-apanya jika dibandingkan wanita yang anak-anak Anda memanggil<br />
padanya ibu.<br />
Karenanya, mendampinginya bersalin adalah sebuah terapi jiwa, sekaligus<br />
episode pembaharuan cinta padanya. Jadi, jika rasanya cinta saya padanya<br />
sedikit terdegradasi, barangkali sudah waktunya bagi saya mendampinginya<br />
lagi untuk bersalin.<br />
Ha ha ha. Sepertinya senda-gurau. Tetapi percayalah, ini serius. Dan<br />
satu hal yang selayaknya diingat adalah bahwa yang dibutuhkannya pada<br />
saat genting itu bukanlah ibu ataupun mertua Anda. Ia hanya membutuhkan<br />
genggaman tangan Anda. Jadi, sudahkah Anda melakukannya?<br />
***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=89&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/episode-memperbaharui-cinta-oleh-bahtiar-hs/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pesan Direktur*</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/pesan-direktur/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/pesan-direktur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:26:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[pesan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah sebuah cerita tentang bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan secara hirarkis dalam sebuah perusahaan, dari Direktur hingga ke karyawan bawahan. Dari: Direktur &#8211; Kepada: General Manajer &#8220;Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah kejadian yang &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/pesan-direktur/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=87&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah sebuah cerita tentang bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan<br />
secara hirarkis dalam sebuah perusahaan, dari Direktur hingga ke karyawan<br />
bawahan.</p>
<p>Dari: Direktur &#8211; Kepada: General Manajer</p>
<p>&#8220;Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah<br />
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat<br />
peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan<br />
dengan berpakaian rapi.<br />
Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada mereka. Bila hari hujan, dan<br />
kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita berkumpul di kantin saja.&#8221;</p>
<p>Dari: General Manager &#8211; Kepada: Manager</p>
<p>&#8220;Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada<br />
gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di<br />
lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa<br />
hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah<br />
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.&#8221;</p>
<p>Dari : Manager &#8211; Kepada : Supervisor</p>
<p>&#8220;Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa<br />
hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi.<br />
Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah<br />
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.&#8221;</p>
<p>Dari : Supervisor &#8211; Kepada : Koordinator</p>
<p>&#8220;Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat setiap<br />
hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam sembilan pagi.&#8221;</p>
<p>Dari : Koordinator &#8211; Kepada : Semua Staff</p>
<p>&#8220;Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali,<br />
kita tidak bisa melihatnya setiap hari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=87&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/pesan-direktur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petaka Sodom dan Gomora   F Rahardi</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/petaka-sodom-dan-gomora-f-rahardi/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/petaka-sodom-dan-gomora-f-rahardi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 09:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[wabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern. Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekadar restrukturisasi menyangkut &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/petaka-sodom-dan-gomora-f-rahardi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=85&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.<br />
Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekadar restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.<br />
Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus influenza: tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas beberapa subtipe, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtipe baru dengan virus H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.<br />
Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih (DOC/DOD), pakan, hormon pertumbuhan, antibiotik, dan obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus subtipe baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya mementingkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan.<br />
Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang—terdiri tulang domba, kambing, sapi, babi, dan ternak lain—digiling dan dicampurkan ke konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi genetik dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya menyerang domba berjangkit pula ke sapi.<br />
&#8220;Nuggets&#8221; dan sosis tulang<br />
Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke penggilingan dan dicampurkan ke pakan. &#8220;Kanibalisme&#8221; inilah antara lain yang telah mengakibatkan degradasi genetik, sekaligus ikut berperan memicu terciptanya virus AI subtipe baru.<br />
Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam), nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini merupakan bahan campuran industri pakan ternak, termasuk unggas.<br />
Tulang rawan, urat, sumsum, dan daging disebut meat and debone meal (MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis, kornet, dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua limbah ayam digiling, sebab sekeras apa pun tulang ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat Producer = NAMPA), berapa persen sebenarnya kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100 persen.<br />
Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam, sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivora pun tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetas pun, harus kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.<br />
Limbah dari AS<br />
Rakyat AS relatif cerdas dalam melihat &#8220;penyimpangan&#8221; atas hukum alam ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga konsumen AS juga ketat hingga limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.<br />
Ke manakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke negara yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang paha dan sayap ayam adalah RRC, India, dan Indonesia. MDM hasil penggilingan limbah unggas juga dibuang ke negara berkembang dan negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di negara berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah.<br />
Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka bukan pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik yang sudah massal pun tak tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak terperhatikan lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomora modern berupa wabah flu burung.<br />
F Rahardi Wartawan; Penyair</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=85&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/24/petaka-sodom-dan-gomora-f-rahardi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kisah nyata dari Italy</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/12/kisah-nyata-dari-italy/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/12/kisah-nyata-dari-italy/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 08:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Dibalik cerita Pendonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan. Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa 17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota , tak tahu aku bener engga nulisnya), seorang wanita kulit &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/03/12/kisah-nyata-dari-italy/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=82&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dibalik cerita Pendonor sumsum tulang belakang dan pelaku pemerkosaan.</p>
<p>Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa<br />
17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota , tak tahu aku bener engga<br />
nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit<br />
hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan<br />
berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk<br />
memelihara anak ini. Syangnya,sang bayi kini menderita leukemia (kanker<br />
darah). Dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera.</p>
<p>Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya.<br />
Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia<br />
menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth. Berita pencarian orang ini<br />
membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya<br />
adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas ia akan menghadapi<br />
kesulitan besar, Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah<br />
hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia<br />
tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni.</p>
<p>Kisah ini akan berakhir bagaimanakah ? Seorang anak perempuan yang<br />
menderita leukimia ternyata menyimpan suatu kisah yang memalukan di<br />
suatu perkampungan Itali. Martha, 35 thn, adalah wanita yang menjadi<br />
pembicaraan semua orang.</p>
<p>Ia dan suaminya Peterson adalah warga kulit putih, tetapi diantara kedua<br />
anaknya, ternyata terdapat satu yang berkulit hitam. Hal ini menarik<br />
perhatian setiap orang disekitar mereka untuk bertanya, Martha hanya<br />
tersenyum kecil berkata pada mereka bahwa nenek berkulit hitam, dan<br />
kakeknya berkulit putih, maka anaknya Monika mendapat kemungkinan seperti ini.</p>
<p>Musim gugur 2002, Monika yang berkulit hitam terus menerus mengalami<br />
demam tinggi.Terakhir, Dr. Adely memvonis Monika menderita leukimia. Harapan<br />
satu-satunya hanyalah mencari pedonor sumsum tulang belakang yang paling<br />
cocok untuknya.<br />
Dokter menjelaskan lebih lanjut. Diantara mereka yang ada hubungan darah<br />
dengan Monika merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pendonor<br />
tercocok. Harap seluruh anggota keluarga kalian berkumpul untuk<br />
menjalani pemeriksaan sumsum tulang belakang.</p>
<p>Raut wajah Martha berubah, tapi tetap saja seluruh keluarga menjalani<br />
pemeriksaan. Hasilnya tak satupun yang cocok. Dokter memberitahu mereka,<br />
dalam kasus seperti Monika ini, mencari pendonor yang cocok sangatlah<br />
kecil kemungkinannya. Sekarang hanya ada satu carayang paling manjur, yaitu<br />
Martha dan suaminya kembali mengandung anak lagi. Dan mendonorkan darah anak<br />
untuk Monika. Mendengar usul ini Martha tiba-tiba menjadi panik, dan berkata<br />
tanpa suara &#8216;Tuhan..kenapa menjadi begini ?&#8217;<br />
Ia menatap suaminya, sinar matanya dipenuhi ketakutan dan putus asa.<br />
Peterson mengerutkan keningnya berpikir. Dr. Adely berusaha menjelaskan<br />
pada mereka, saat ini banyak orang yang menggunakan cara ini untuk<br />
menolong nyawa para penderita leukimia, lagi pula cara ini terhadap bayi yang<br />
baru dilahirkan sama sekali tak ada pengaruhnya. Hal ini hanya didengarkan<br />
oleh pasangan suami istri tersebut, dan termenung begitu lama. Terakhir<br />
mereka hanya berkata, Biarkan kami memikirkannya kembali.</p>
<p>Malam kedua, Dr. Adely tengah bergiliran tugas, tiba-tiba pintu ruang<br />
kerjanya terbuka, pasangan suami-istri tersebut masuk. Martha menggigit<br />
bibirnya keras, suaminya Peterson, menggenggam tangannya, dan berkata<br />
serius pada dokter, &#8216;Ada suatu hal yang perlu kami beri tahu padamu. Tapi<br />
harap Anda berjanji untuk menjaga kerahasiaan ini, karena ini merupakan<br />
rahasia kami suami-istri selama beberapa tahun&#8217;. Dr. Adely menganggukkan<br />
kepalanya.</p>
<p>Lalu mereka menceritakan. &#8216;Itu adalah 10 tahun lalu, dimana Martha<br />
ketika pulang kerja telah diperkosa seorang remaja berkulit hitam. Saat Martha<br />
sadar, dan pulang ke rumah dengan tergesa-gesa, waktu telah menunjukkan pukul 1<br />
malam.<br />
Waktu itu aku bagaikan gila keluar rumah mencari orang hitam itu untuk<br />
membuat perhitungan. Tapi telah tak ada bayangan orang satupun. Malam<br />
itu kami hanya dapat memeluk kepala masing-masing menahan kepedihan.<br />
Sepertinya seluruh langit runtuh&#8217;.</p>
<p>Bicara sampai sini, Peterson telah dibanjiri air mata, Ia melanjutkan<br />
kembali . &#8216;Tak lama kemudian Martha mendapati dirinya hamil. Kami merasa<br />
sangat ketakutan, kuatir bila anak yang dikandungnya merupakan milik<br />
orang hitam tersebut. Martha berencana untuk menggugurkannya, tapi aku masih<br />
mengharapkan keberuntungan, mungkin anak yang dikandungnya adalah bayi<br />
kami. Begitulah, kami ketakutan menunggu beberapa bulan. Maret 1993, Martha<br />
melahirkan bayi perempuan, dan ia berkulit hitam. Kami begitu putus asa,<br />
pernah terpikir untuk mengirim sang anak ke panti asuhan. Tetapi ketika<br />
mendengar suara tangisnya, kami sungguh tak tega. Terlebih lagi<br />
bagaimanapun Martha telah mengandungnya, ia juga merupakan sebuah nyawa,<br />
pada akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya, dan memberinya nama<br />
Monika&#8217;.</p>
<p>Mata Dr. Adely juga digenangi air mata, pada akhirnya ia memahami kenapa<br />
bagi kedua suami istri tersebut kembali mengandung anak merupakan hal<br />
yang sangat mengkuatirkan. Ia berpikir sambil mengangguk-anggukka n kepala<br />
berkata; &#8216;Memang jika demikian, kalian melahirkan 10 anak sekalipun akan<br />
sulit untuk mendapatkan donor yang cocok untuk Monika&#8217;. Beberapa lama<br />
kemudian, ia memandang Martha dan berkata &#8216; Kelihatannya, kalian harus<br />
mencari ayah kandung Monika. Barangkali sumsum tulangnyacocok untuk<br />
Monika.Tetapi, apakah kalian bersedia membiarkan ia kembali muncul<br />
dalam kehidupan kalian ?&#8217;</p>
<p>Martha berkata : &#8216;Demi anak, aku bersedia berlapang dada memaafkannya.<br />
Bila ia bersedia muncul menyelamatkannya. Aku tak akan memperkarakannya&#8217; .<br />
Dr. Adely merasa terkejut akan kedalaman cinta sang ibu.</p>
<p>Martha dan Peterson mempertimbangkannya baik-baik, sebelum akhirnya<br />
memutuskan memuat berita pencarian ini di koran dengan menggunakan nama<br />
samaran. November 2002, di koranWayeli termuat berita pencarian ini,<br />
seperti yang digambarkan sebelumnya. Berita ini memohon sang pelaku pemerkosaan<br />
waktu itu berani muncul, demi untuk menolong sebuah nyawa seorang anak<br />
perempuan penderita leukimia ! Begitu berita ini keluar, tanggapan<br />
masyarakat begitu menggemparkan. Kotak surat dan telepon Dr. Adely<br />
bagaikan meledak saja, kebanjiran surat masuk dan telepon, orang-orang terus<br />
bertanya siapakah wanita ini Mereka ingin bertemu dengannya, berharap dapat<br />
memberikan bantuan padanya. Tetapi Martha menolak semua perhatian<br />
mereka, ia tak ingin mengungkapkan identitas sebenarnya, lebih tak ingin lagi<br />
identitas Monika sebagai anak hasil pemerkosaan terungkap.</p>
<p>Seluruh media penuh dengan diskusi tentang bagaimana cerita ini<br />
berakhir. (surat kabar Roma) Berkomentar dengan topik : Orang hitam itu akan<br />
munculkah ?</p>
<p>Jika orang hitam ini berani muncul, akan bagaimanakah masyarakat kita<br />
sekarang menilainya. Akankah menggunakan hukum yang berlaku untuk<br />
menghakiminya ? Haruskah ia menerima hukuman dan cacian untuk masa<br />
lalunya, ataukah ia harus menerima pujian karena keberaniannya hari ini ?</p>
<p>Saat itu berita pencarian juga muncul di Napulese, memporak-porandakan<br />
perasaan seorang pengelola toko minuman keras berusia 30 tahun. Ia<br />
seorang kulit hitam, bernama Ajili. 17 Mei 1992 waktu itu, ia memiliki lembaran<br />
terkelam yg merupakan mimpi terburuknya di malam berhujan itu. Ia adalah<br />
sang pemeran utama dalam kisah ini. Tak seorangpun menyangka, Ajili yang<br />
sangat kaya raya itu, pernah bekerja sebagai pencuci piring panggilan.<br />
Dikarenakan orang tuanya telah meninggal sejak ia masih muda, ia yang<br />
tak pernah mengenyam dunia pendidikan terpaksa bekerja sejak dini. Ia yang<br />
begitu pandai dan cekatan, berharap dirinya sendiri bekerja dengan giat<br />
demi mendapatkan sedikit uang dan penghargaan dari orang lain. Tapi sialnya,<br />
bosnya merupakan seorang rasialis, yang selalu mendiskriminasikann ya.<br />
Tak peduli segiat apapun dirinya, selalu memukul dan memakinya.<br />
17 Mei 1992, merupakan ulang tahunnya ke 20, ia berencana untuk pulang<br />
kerja lebih awal merayakan hari ulang tahunnya. Siapa menyangka, ditengah<br />
kesibukan ia memecahkan sebuah piring. Sang bos menahan kepalanya,<br />
memaksanya untuk menelan pecahan piring. Ajili begitu marah dan memukul<br />
sang bos, lalu berlari keluar meninggalkan restoran. Ditengah kemarahannya ia<br />
bertekad untuk membalas dendam pada si kulit putih. Malam berhujan<br />
lebat, tiada seorangpun lewat, dan di parkiran ia bertemu Martha. Untuk<br />
membalaskan dendamnya akibat pen-diskriminasian, ia pun memperkosa sang wanita yang<br />
tak berdosa ini.</p>
<p>Tapi selesai melakukannya, Ajili mulai panik dan ketakutan. Malam itu<br />
juga ia menggunakan uang ulang tahunnya untuk membeli tiket KA menuju<br />
Napulese, meninggalkan kota ini.<br />
Di Napulese , ia bertemu keberuntungannya. Ajili<br />
mendapatkan pekerjaan dengan lancar di restoran milik orang Amerika.<br />
Kedua pasangan Amerika ini sangatlah mengagumi kemampuannya, dan menikahkannya<br />
dengan anak perempuan mereka, Lina, dan pada akhirnya juga<br />
mempercayainya untuk mengelola toko mereka. Beberapa tahun ini, ia yang begitu tangkas,<br />
tak hanya memajukan bisnis toko minuman keras ini, ia juga memiliki 3<br />
anak yang lucu. Di mata pekerja lainnya dan seluruh anggota keluarga, Ajili<br />
merupakan bos yang baik, suami yang baik, ayah yang baik. Tapi hati<br />
nuraninya tetap membuatnya tak melupakan dosa yang pernah diperbuatnya.</p>
<p>Ia selalu memohon ampun pada Tuhan dan berharap Tuhan melindungi wanita<br />
yang pernah diperkosanya, berharap ia selalu hidup damai dan tentram.</p>
<p>Tapi ia menyimpan rahasianya rapat-rapat, tak memberitahu seorangpun.<br />
Pagi hari itu, Ajili berkali-kali membolak-balik koran, ia terus<br />
mempertimbangkan kemungkinan dirinyalah pelaku yang dimaksud. Ia tak pernah sedikitpun<br />
membayangkan bahwa wanita malang itu mengandung anaknya, bahkan<br />
menanggung tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga anak yang awalnya bukanlah<br />
miliknya.</p>
<p>Hari itu, Ajili beberapa kali mencoba menghubungi no.telepon Dr.Adely.<br />
Tapi setiap kali, belum sempat menekan habis tombol telepon, ia telah<br />
menutupnya kembali. Hatinya terus bertentangan, bila ia bersedia<br />
mengakui semuanya, setiap orang kelak akan mengetahui sisi terburuknya ini,<br />
anak-anaknya tak akan lagi mencintainya, ia akan kehilangan keluarganya<br />
yang bahagia dan istrinya yang cantik. Juga akan kehilangan penghormatan<br />
masyarakat disekitarnya. Semua yang ia dapatkan dengan ditukar kerja<br />
kerasnya bertahun-tahun.</p>
<p>Malam itu, saat makan bersama, seluruh keluarga mendiskusikan kasus<br />
Martha. Sang istri, Lina berkata : &#8216;Aku sangat mengagumi Martha. Bila aku di<br />
posisinya, aku tak akan memiliki keberanian untuk memelihara anak hasil<br />
perkosaan hingga dewasa. Aku lebih mengagumi lagi suami Martha, ia<br />
sungguh pria yang patut dihormati, tak disangka ia dapat menerima anak yang<br />
demikian&#8230;. &#8216; Ajili termenung mendengarkan pendapat istrinya, dan<br />
tiba-tiba mengajukan pertanyaan: &#8216;Kalau begitu, bagaimana kau memandang<br />
pelaku pemerkosaan itu ? Lina menjawab: &#8216;Sedikitpun aku tak akan<br />
memaafkannya !!!&#8217;</p>
<p>Waktu itu ia sudah membuat kesalahan, kali ini juga hanya dapat<br />
meringkuk menyelingkupi dirinya sendiri, ia benar-benar begitu rendah, begitu<br />
egois, begitu pengecut ! Ia benar-benar seorang pengecut ! demikian istrinya<br />
menjawab dengan dipenuhi api kemarahan. Ajili mendengarkan saja, tak<br />
berani mengatakan kenyataan pada istrinya. Malam itu, anaknya yang baru<br />
berusia 5 tahun begitu rewel tak bersedia tidur, untuk pertama kalinya Ajili<br />
kehilangan kesabaran dan menamparnya. Sang anak sambil menangis berkata:<br />
&#8216;Kau ayah yang jahat, aku tak mau peduli kamu lagi. Aku tak ingin kau<br />
menjadi ayahku&#8217;. Hati Ajili bagai terpukul keras mendengarnya, ia pun<br />
memeluk erat-erat sang anak dan berkata: &#8216;Maaf, ayah tak akan memukulmu<br />
lagi. Ayah yang salah, maafkan papa ya&#8217;.</p>
<p>Sampai di sini, Ajili pun tiba-tiba menangis. Sang anak terkejut<br />
dibuatnya, dan buru-buru berkata untuk menenangkan ayahnya : &#8216;Baiklah, kumaafkan,<br />
pa, Guru TK ku bilang, anak yang baik adalah anak yang mau memperbaiki<br />
kesalahannya. &#8230;&#8217;</p>
<p>Malam itu, Ajili tak dapat terlelap, merasa dirinya bagaikan terbakar<br />
dalam neraka. Dimatanya selalu terbayang kejadian malam berhujan deras itu,<br />
dan bayangan sang wanita. Ia sepertinya dapat mendengarkan jerit tangis<br />
wanita itu. Tak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri : &#8216;Aku ini<br />
sebenarnya orang baik, atau orang jahat ?&#8217; Mendengar bunyi napas<br />
istrinya yang teratur, ia pun kehilangan seluruh keberaniannya untuk berdiri.<br />
Hari kedua, ia hampir tak tahan lagi rasanya. Istrinya yang mulai merasakan<br />
adanya ketidakberesan pada dirinya, memberikan perhatian dengan<br />
menanyakan apakah ada masalah. Dan ia mencari alasan tak enak badan untuk<br />
meloloskan dirinya. Pagi hari di jam kerja, sang karyawan menyapanya ramah :<br />
&#8216;Selamat pagi, manager !&#8217; Mendengar itu, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat pasi,<br />
dalam hati dipenuhi perasaan tak menentu dan rasa malu. Ia merasa<br />
dirinya hampir menjadi gila saja rasanya.</p>
<p>Setelah berhari-hari memeriksa hati nuraninya, Ajili tak dapat lagi<br />
terus diam saja, iapun menelepon Dr. Adely. Ia berusaha sekuat tenaga menjaga<br />
suaranya supaya tetap tenang : &#8216;Aku ingin mengetahui keadaan anak<br />
malang itu. Dr. Adely memberitahunya, keadaan sang anak sangat parah. Dr.Adely<br />
menambahkan kalimat terakhirnya berkata: &#8216;Entah apa ia dapat menunggu<br />
hari kemunculan ayah kandungnya&#8217;.</p>
<p>Kalimat terakhir ini menyentuh hati Ajili yang paling dalam, suatu<br />
perasaan hangat sebagai sang ayah mengalir keluar, bagaimanapun anak itu juga<br />
merupakan darah dagingnya sendiri ! Ia pun membulatkan tekad untuk<br />
menolong Monika. Ia telah melakukan kesalahan sekali, tak boleh kembali<br />
membiarkan dirinya meneruskan kesalahan ini. Malam hari itu juga, ia pun<br />
mengobarkan keberaniannya sendiri untuk memberitahu sang istri tentang segala<br />
rahasianya.</p>
<p>Terakhir ia berkata : &#8216;Sangatlah mungkin bahwa aku adalah ayah Monika.<br />
Aku harus menyelamatkannya&#8217; . Lina sangat terkejut, marah dan terluka<br />
mendengar semuanya, ia berteriak marah: &#8216;Kau PEMBOHONG !&#8217;.</p>
<p>Malam itu juga ia membawa ketiga anak mereka, dan lari pulang ke rumah<br />
ayah ibunya. Ketika ia memberitahu mereka tentang kisah Ajili, kemarahan<br />
kedua suami-istri tersebut dengan segera mereda. Mereka adalah dua orang tua<br />
yang penuh pengalaman hidup, mereka menasehatinya : &#8216;Memang benar, kita patut<br />
marah terhadap segala tingkah laku Ajili di masa lalu. Tapi pernahkah<br />
kamu memikirkan, ia dapat menghadirkan dirinya untuk muncul, perlu berapa<br />
banyak keberanian besar. Hal ini membuktikan bahwa hati nuraninya belum<br />
sepenuhnya terkubur&#8230;. Apakah kau mengharapkan seorang suami yang<br />
pernah melakukan kesalahan tapi kini bersedia memperbaiki dirinya, ataukah<br />
seorang suami yang selamanya menyimpan kebusukan ini didalamnya ?&#8217;</p>
<p>Mendengar ini Lina terpekur beberapa lama.<br />
Pagi-pagi di hari kedua, ia langsung kembali ke sisi Ajili, menatap mata<br />
sang suami yang dipenuhi penderitaan, Lina menetapkan hatinya berkata :<br />
&#8216;Ajili, pergilah menemui Dr. Adely ! Aku akan menemanimu !&#8217;</p>
<p>3 Februari 2003, suami istri Ajili, menghubungi Dr. Adely.8 Februari,<br />
pasangan tersebut tiba di RS Elisabeth, demi untuk pemeriksaan DNA<br />
Ajili. Hasilnya Ajili benar-benar adalah ayah Monika. Ketika Martha mengetahui<br />
bahwa orang hitam pemerkosanya itu pada akhirnya berani memunculkan<br />
dirinya, ia pun tak dapat menahan air matanya. Sepuluh tahun ini ia terus<br />
memendam dendam kesumat terhadap Ajili, namun saat ini ia hanya dipenuhi perasaan<br />
terharu.</p>
<p>Segalanya berlangsung dalam keheningan. Demi untuk melindungi pasangan<br />
Ajili dan pasangan Martha, pihak RS tidak mengungkapkan dengan jelas<br />
identitas mereka semua pada media, dan juga tak bersedia mengungkapkan<br />
keadaan sebenarnya, mereka hanya memberitahu media bahwa ayah kandung<br />
Monika telah ditemukan.</p>
<p>Berita ini mengejutkan seluruh pemerhati berita ini. Mereka<br />
terus-menerus menelepon, menulis suratpada Dr. Adely, memohon untuk dapat menyampaikan<br />
kemarahan mereka pada orang hitam ini, sekaligus penghormatan mereka<br />
padanya. Mereka berpendapat : &#8216;Barangkali ia pernah melakukan tindak<br />
pidana, namun saat ini ia seorang pahlawan !&#8217;</p>
<p>10 Februari, kedua pasangan Martha dan suami memohon untuk dapat bertemu<br />
muka langsung dengan Ajili. Awalnya Ajili tak berani untuk menemui<br />
mereka, namun pada permohonan ketiga Martha, iapun menyetujui hal ini. 18<br />
Februari, dalam ruang tertutup dan dirahasiakan di RS, Martha bertemu langsung<br />
dengan Ajili.</p>
<p>Ajili baru saja memangkas rambutnya, saat ia melihat Martha, langkah<br />
kakinya terasa sangatlah berat, raut wajahnya memucat. Martha dan suaminya<br />
melangkah maju, dan mereka bersama-sama saling menjabat tangan masing-masing,<br />
sesaat ketiga orang tersebut diam tanpa suara menahan kepedihan, sebelum<br />
akhirnya air mata mereka bersama-sama mengalir.</p>
<p>Beberapa waktu kemudian, dengan suara serak Ajili berkata :<br />
&#8216;Maaf&#8230;mohon maafkanlah aku !&#8217; Kalimat ini telah terpendam dalam hatiku selama 10<br />
tahun. Hari ini akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung<br />
kepadamu. Martha menjawab : &#8216;Terima kasih kau dapat muncul. Semoga Tuhan<br />
memberkati, sehingga sumsum tulang belakangmu dapat menolong putriku&#8217;.</p>
<p>19 Februari, dokter melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang Ajili.<br />
Untungnya, sumsum tulang belakangnya sangat cocok bagi Monika Sang<br />
dokter berkata dengan antusias : &#8216;Ini suatu keajaiban !&#8217;</p>
<p>22 Februari 2003, sekian lama harapan masyarakat luas akhirnya<br />
terkabulkan. Monika menerima sumsum tulang belakang Ajili, dan pada akhirnya Monika<br />
telah melewati masa kritis. Satu minggu kemudian, Monika boleh keluar RS<br />
dengan sehat walafiat. Martha dan suami memaafkan Ajili sepenuhnya, dan<br />
secara khusus mengundang Ajili dan Dr. Adely datang kerumah mereka untuk<br />
merayakannya. Tapi hari itu Ajili tidak hadir, ia memohon Dr. Adely<br />
membawa suratnya bagi mereka.</p>
<p>Dalam suratnya ia menyatakan penyesalan dan rasa malunya berkata: &#8216;Aku<br />
tak ingin kembali mengganggu kehidupan tenang kalian. Aku berharap Monika<br />
berbahagia selalu hidup dan tumbuh dewasa bersama kalian. Bila kalian<br />
menghadapi kesulitan bagaimanapun, harap hubungi aku, aku akan berusaha<br />
sekuat tenaga untuk membantu kalian. Saat ini juga, aku sangat berterima<br />
kasih pada Monika, dari dalam lubuk hatiku terdalam, dialah yang<br />
memberiku kesempatan untuk menebus dosa. Dialah yang membuatku dapat memiliki<br />
kehidupan yang benar-benar bahagia di separoh usiaku selanjutnya. Ini<br />
adalah hadiah yang ia berikan padaku !&#8217;</p>
<p>( Italia post)<br />
&#8216;Kita tidak dapat berbuat apapun untuk mengubah masa lalu, tapi kita<br />
bisa mengendalikan masa depan dengan berbuat KEBAIKAN mulai hari ini&#8230;&#8217;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=82&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/12/kisah-nyata-dari-italy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dunia Perlu Belajar Kepada Indonesia</title>
		<link>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/06/dunia-perlu-belajar-kepada-indonesia/</link>
		<comments>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/06/dunia-perlu-belajar-kepada-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 10:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ekobr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humor]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekobr.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin salah satu privilege yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah menjadi penduduk sebuah negeri bernama Indonesia. Bagaimana tidak, kita hidup di negeri yang penuh kehangatan hidup, yang bakat utama penduduknya adalah bergembira dan tertawa. Kaya atau miskin, menang atau kalah, &#8230; <a href="http://ekobr.wordpress.com/2009/03/06/dunia-perlu-belajar-kepada-indonesia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=80&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin salah satu privilege yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah menjadi penduduk sebuah negeri bernama Indonesia. Bagaimana tidak, kita hidup di negeri yang penuh kehangatan hidup, yang bakat utama penduduknya adalah bergembira dan tertawa. Kaya atau miskin, menang atau kalah, mendapatkan atau kehilangan, kenyang atau lapar, sehat atau sakit semuanya potensial untuk membuat kita bergembira dan tertawa. Untuk tetap bisa bergembira dan tertawa Bangsa Indonesia tidak memerlukan pemerintahan yang baik. kita tidak memerlukan perekonomian yang stabil, politik yang bersih, kebudayaan yang berkualitas. Untuk bergembira dan tertawa kita tidak perlu menunggu memiliki pekerjaan bergengsi, rumah nyaman ataupun kendaraan pribadi. Dengan bermodal sebatang rokok, segelas kopi dan dengan menggeser-geser bidak catur dengan diselingi irama dangdut, kemewahan yang bernama tertawa dan gembira sah menjadi milik kita, meski anak istri di rumah harap-harap cemas menanti berapa banyak yang akan kita bawa untuk makan esok hari.</p>
<p>Mungkin di muka bumi tak ada orang bersukaria melebihi orang Indonesia. Tak ada orang berjoget-joget gembira siang malam melebihi bangsa Indonesia. Tak ada masyarakat berpesta, tertawa-tawa, cengengesan, kenduri, serta segala macam bentuk kehangatan hidup melebihi kebiasaan masyarakat kita. Bangsa Indonesia bukan bangsa pemalas. Kita adalah bangsa yang memang tidak perlu rajin, Kita bangsa yang kaya raya sejak dari sononya, sehingga cukup mengisi kehidupan dengan joget dan tidur saja, tidak perlu repot-repot seperti bangsa-bangsa lain. Sedemikian adil makmur dan sejahteranya negara kita sehingga segala barang tinggal mengimpor saja, mulai dari beras hingga jarum jahit. Sedemikian adil makmur dan sejahteranya negara kita sehingga pusat perbelanjaan dibangun sebanyak mungkin untuk memenuhi nafsu belanja masyarakatnya. Kumpulan-kumpulan dibentuk dari mulai klub sepeda motor kelas ecek-ecek sampai mobil kelas super mewah, dari klub pecinta kendaraan jaman kompeni sampai kendaraan keluaran terbaru. Sedemikian adil makmur dan sejahteranya negara kita sehingga tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Tak ada produk-produk premium limited edition yang tak dimiliki warga kelas atas Indonesia. Sedemikian adil makmur dan sejahteranya negara kita sehingga jumlah orang yang mengantri di outlet McDonalds ataupun Bread talk sama panjangnya dengan yang mengantri pembagian sembako di kelurahan.</p>
<p>Mungkin tak ada spesies lain yang secara antropologis dan psikologis lebih canggih dari Homo indonesianus. Struktur dalam tubuh dan jiwannya mampu melahirkan defence mechanism yang begitu sophisticated, dihajar ganasnya tsunami, diluluhlantakkan gempa bumi, dikebiri hak-haknya, dilupakan pemerintahnya tidak membuatnya menjadi putus asa atau mutung terhadap hidup. Mungkin tak ada spesies manusia lain yang lebih canggih dari Homo indonesianus, Karena kita mampu memadukan malaikat dengan setan dalam situasi sangat damai. Kita bisa menjajarkan kebaikan dan keburukan dalam suatu harmoni yang indah. Kita mampu mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan dengan kesombongan, kemelaratan dengan kemewahan,. Mungkin tak ada spesies manusia lain yang lebih canggih dari Homo indonesianus, karena kita mampu melewati perjalanan sejarah tanpa harus mengambil hikmah-hikmah di dalamnya, karena kita juga tidak serius-serius amat menjalani hidup ini.</p>
<p>Mungkin dibelahan bumi manapun tak ada kehidupan yang se-longgar dan se-permisif Bangsa Indonesia, segala sesuatu bisa dikompromikan, hukum pun sangat fleksibel, kebenaran harus tunduk kepada kemauan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Kebodohan yang merata dalam kehidupan bangsa kita di semua segmen dan strata, tidak mengurangi kebesaran bangsa Indonesia. Untuk menjadi besar, bangsa Indonesia tidak memerlukan kepandaian. Bodohpun kita tetap besar. Dengan bekal mental kerdilpun kita tetap besar. Dengan modal moralitas yang rendah dan hinapun bangsa kita tetap bangsa yang besar. Oleh karena itu kita tidak memerlukan kebesaran, karena memang sudah besar. Tetapi sangat jelas perilaku yang paling menonjol pada kehidupan bangsa Indonesia adalah bergurau. Atau barangkali orang lain menjumpainya sebagai bangsa pemalas. Atau bangsa pelupa. Toh, kita sendiri pun tidak serius-serius amat menjalani hidup ini. Karena itu dunia perlu belajar kepada bangsa Indonesia bagaimana cara bersenang-senang.<br />
dari email seorang teman</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ekobr.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ekobr.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ekobr.wordpress.com&amp;blog=6817224&amp;post=80&amp;subd=ekobr&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekobr.wordpress.com/2009/03/06/dunia-perlu-belajar-kepada-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ebc4907c732fa185f7380d9e772d4c1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ekobr</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
