Negeri para juragan

sebenarnya mau nulis ini dah lama soalnya ini berhubungan dengan perilaku sebagian masyarakat kita, bangsa Indonesia yang tercinta ini. Ceritanya begini, dulu waktu masih sma aku punya kenalan, nah kenalanku bekerja sebagai sopir angkutan umum. Mobil yang dipakai buat usaha punya orang lain alias sewa, ya kerjaanya setiap hari ngumpulin uang setoran dari penumpang, berangkat pagi pulang sore. Nah suatu saat si Kenalan ini dapat bagian warisan dari orang tuanya. Sama si kenalanku ini uangnya di beliin mobil angkutan umum sesuai bidang yang dikuasainya, ide brilian kan?sampai disini memang kelihatan brilian, tapi yang bikin aku heran tuh kelanjutanya. Ternyata mobil ini sama dia nggak disopiri sendiri tapi malah disewakan ke sopir lain, nah kenalanku ini tiap sore dapat setoran dari sopir yang menyewa mobilnya alias Jadi Juragan. Satu dua bulan awalnya lancar, setoran jalan terus si Kenalanku ini leha-leha di rumah disetori oleh sopirnya, he,he. Tapi namanya mobil dipegang orang lain ya lama-lama muncul masalah disana-sini alias rajin ke bengkel. Si kenalan ini meskipun mantan sopir, tapi nggak ngeh masalah mesin walhasil dia sering nombok untuk perbaikan mobilnya, apalagi dia kan juragan, gengsi dong! masak juragan keluar masuk kolong betulin mobil, he,he.  Bulan demi bulan mobilnya makin tua makin sering ke bengkel singkat kata akhirnya mobil dijual dan kenalan ini punya hutang yang cukup lumayan. Jadi awalnya nggak punya mobil, nyupir mobil orang lain dan bisa hidup walaupun pas-pasan tapi begitu punya mobil sendiri malah bangkrut dan punya utang. Ada lagi cerita yang lain, jaman dulu waktu awal-awal kerja, di kantorku disamping pegawai tetap maksudnya PNS ada juga pegawai tidak tetap, mereka sering disebut pegawai honorer atau harian. Pegawai ini tugasnya ya bantu-bantu para PNS “resmi” itu, mulai bikin laporan, bikin kopi, menata berkas dll, jadi semua tugas diselesaikan para “honorer ” ini. Bahkan pernah aku berada di suatu seksi jumlah pegawai honorer sama PNS-nya banyak honorernya, ha,ha. Lho kok bisa?ternyata yang membawa pegawai honorer atau harian itu yha PNS-PNS itu. Trus yang bayar siapa?Ada yang dibayar seksi itu ada juga yang dibayar sama PNS yang membawanya (ha,ha,ha). Nah ini yang lucu. Jadi mereka punya pegawai sendiri di dalam kantor alias jadi Juragan. Semua kerjaan mereka yang ngerjain yha honorernya itu, dia mah datang tanda tangan atau pergi entah kemana. Nah untungnya sekarang praktek kayak gitu udah nggak boleh lagi karena dibelakang hari ternyata para pegawai honorer itu banyak yang nuntut macem-macem salah satunya diangkat jadi pegawai, jadi mungkin pemikiran para bos “daripada bikin pusing dibelakang hari, mendingan nggak boleh aja”. Trus gimana nasib para pegawai “juragan” tadi? ya nggak tahu soalnya aku dah lama pindah dan di kantorku yang baru pegawai honorer kayak gitu nggak ada lagi. Mungkin para pegawai “juragan” lagi pada belajar ngetik komputer atau bikin laporan?ha,ha,ha (karena setahuku banyak dari beliau-beliau ini yang nggak bisa komputer) mungkin pikirnya “masak juragan belajar komputer?”, ha,ha,ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s