Rayyan Aryo Panuksmo

anak ke duaku, lahir hari Jum’at sore bulan Februari tahun 2009, pas maghrib kalau menurut kalender lahir Jum’at kliwon tapi kata orang jawa sudah masuk hari Sabtu (lewat maghrib) jadi hari kelahirannya kalau menurut kalender jawa adalah hari Sabtu legi (katanya), aku sendiri kurang mengerti itung-itungan jawa. Padahal kalo di kantor suka ngaku-ngaku “wong ndeso”he,he wong ndeso kok “ra Mudheng” (nggak Paham) itungan weton, Payahhh!!!. Dan karena masih “debatable” maka kuanggap hal ini masih dalam wilayah atau ranah “khilafiyah” (sok sufi ha,ha,) yang konsekuensinya harus minta “fatwa” ke simbah-simbah alias tetua kampung  atau kalo didesaku terkenal dengan sebutan “dewan suro”. Bukan Dewan Syuro-nya NU lho!? ini dewan suro kependekan dari “Suka Rokok”, karena mbah-mbah ini biasanya punya hobi merokok yang cukup akut. Bahkan secara guyon ada yang menjuluki mereka sebagai “Ahli Hisap Wal Jamaah” (ha,ha) , mungkin karena kalo merokok suka pada ngumpul rame-rame yha?Jadi sambil “jagongan” kebal-kebul gitu, alhasil kalo orang yang nggak biasa kumpul sama mereka dijamin “keplepegen” atau minimal “mbrebes mili”deh, ha,ha. O ya kembali ke Laptop!!! Tentang proses kelahiran anakku, pagi itu sekitar pukul 08.00 aku dapat sms dari istriku kalau dia sudah masuk ke RS bersalin, katanya udah pembukaan 1, wah dah saatnya nih batinku sambil celingak-celinguk, maklum gak tau mau ngapain soalnya istri di Klaten dan aku sendiri di Jakarta.  Sebenarnya kalaupun istriku tidak memberi kabar aku udah tahu bahwa memang hari itu, Jum’at tanggal 6 Februari 2009 dia sudah harus ke RS untuk persiapan melahirkan. Hasil pemeriksaan oleh dokter kandungan telah diketahui kalau istriku akan melahirkan antara tanggal 6 atau 7 Februari 2009. Dan kalaupun tanggal 07 Februari belum lahir maka oleh dokter akan diambil “tindakan”, yah mungkin akan dilakukan operasi gitu. Ini menyangkut riwayat kehamilan istriku sebelumnya yang lahir melalui proses operasi. Cuma aku nggak nyangka aja dah bukaan gitu.  Di kantor aku langsung siap-siap “kabur” ke Klaten, menyelesaikan pekerjaan yg “jatuh tempo”, menyisihkan pekerjaan yang bisa ditunda, merapikan meja dan tentu saja membuat surat cuti.Ya C.U.T.Ii. itu memang dah jadi kesepakan aku sama istri, karena kalo anakku yg kedua ini lahir aku pengin nungguin, bukan apa-apa ini kuanggap sebagai bentuk keadilan, karena dulu kakaknya juga aku tungguin sampai “mbrojol” atau lebih tepatnya dibrojol paksa sama dokter he,he, jadi biar nanti kalo sudah besar secara psikologis anakku nggak merasa dibeda-bedain (kalo ini sok tahu mode on jadi jangan ditanya sumbernya). Kenapa nggak cuti dari kemaren? nah ini pertanyaan bagus, karena perkiraan tanggal 7 lahirnya, maka aku bikin cuti agak “ke belakang”. Perkiraan kami lahirnya hari Sabtu atau Minggu. Walhasil aku harus buat ralat surat cuti. Gitu Bos!!

Surat cuti selesai aku segera keluar kantor dengan tujuan “kabur” ke bandara Soekarno-Hatta walaupun belum dapat tiket, he,he (padahal hari Jum’at sore tuh katanya rame-ramenya apalagi jurusan yogya), tapi aku nekat ajah! pokoknya feeling yakin dapat tiket. Begitu keluar kantor ternyata didepan kantor orang–orang yang mau Jumatan sudah ramai, kulihat jam. Ternyata sudah pukul 11.30, ya udah Jumatan dulu lah batinku (perasaan ini Jumatan terlama yang pernah kuikuti, kayaknya khotbahnya panjaaang banget) bolak-balik ku lihat jam, maklum pikiran sudah di rumah bersalin aisyiyah klaten he,he. Oh iya tidak lupa waktu ngisi kotak Infak jumlahnya agak banyak  dari biasanya (oh ya ini jadi kebiasaan baru ketika istri hamil), nggak tahu yha ini terinspirasi dari baca bukunya Ust Yusuf Mansur tentang sedekah yang manfaatnya adalah menjauhkan dari bencana dan dijanjikan bakal dapat balasan yang berlipat-lipat (10x). Dalam hati aku senyum sendiri, mau sedekah kok kalo ada “maksudnya” , he,he. Pasti diketawain malaikat nih. Yha biarin aja daripada nggak!!yang penting “usaha” kan? he,he. Jadi menurut buku itu gini itung-itunganya, kita bayangin kalo operasi melahirkan itu kira-kira butuh biaya misalnya 8 juta, maka menurut Ust Yusuf Mansur kalo mau dapat 8 juta harus sedekah minimal 8oo ribu (sepersepuluhnya), kalo nggak salah lho!!. Kalo salah yha mohon maaf sama Pak Ustad Yusuf Mansur berarti keliru menafsirkan buku beliau ha,ha. Tapi  ikhtiar juga iya,  yang jelas biaya kalaupun operasi lagi (terpaksanya)  sudah ada, hasil mengakses situs nabung.com dan ngirit.co.id, he,he.

Kembali ke cerita tadi, habis Jumatan aku langsung berangkat ke Stasiun Gambir. lho katanya mau naik pesawat kok ke Gambir?mau naik pesawat Argo Dwipangga?he,he sabar dulu bos, maksudnya ke Gambir mau naik Bus yang jurusan Soekarno-Hatta, kan Busnya ngetem disana?aku juga nggak tahu kenapa Bus Bandara Ngetem di Stasiun, mungkin pemerintah mau bikin jaringan transportasi yha? jadi dari tiap terminal, stasiun dan bandara ada rangkaian jalur transportasinya. Mbuh Lah! Yang penting dapat bis yang pertamax lewat. Akhirnya setelah bermacet-macet sebentar (soalnya Bus lewat depan Istiqlah dan tahu sendiri kalo habis Jumatan), sampai di Bandara sudah jam setengah dua siang. Aku turun di terminal keberangkatan dalam negeri sambil lihat-lihat loket-loket maskapai kaya lion air, sriwijaya, batavia dll. Aku turun terus pergi ke loket  dan hampir semua menjawab “tiket ke Yogya dan Solo” HABIS!!!. Padahal dah jalan dari ujung ke ujung lho1? Waduh gimana nih. batinku bingung campur panik. Ada juga sih yang nawarin tiket tapi rata-rata di atas jam 6 malam dan harganya “ugal-ugalan” he,he, yah kalo jam 6 sih sami mawon, samapai disana kemungkinan besar dah lahir.  Sempat kepikiran mau balik ke Gambir naik Kereta Api saja, sama-sama terlambat ini, batinku. Toh disana sudah ada Ibuku, adikkku, Ibu istriku alias ibu mertua yang kubooking seminggu sebelumnya buat nemenin anaknya (ini permintaan istri lho? tapi  demicalon  cucunya  beliau seneng-seneng aja kok)

Lagi enak-enaknya melamun tiba-tiba aku dideketin sama Bapak-Bapak, orangnya cukup “mencurigakan”. umurnya kira-kira 50-an, kulitnya hitam, memakai pakaian atasan putih kayak orang kantoran dengan mata yang keruh kurang tidur. “Butuh tiket Mas?mau kemana?”. Aha ini pasti CALO, batinku. Kujawab dengan ogah-ogahan “Ke Yogya Pak, tapi nggak dapat tiket habis semua”, jawabku sambil melengos mau pergi. Eh ternyata Bapak ini punya tiket atas nama orang lain yang nggak jadi berangkat jam tigaan (tepatnya lupa). Kulihat Jam sudah Jam 02.15. Iseng aja kutanya, “berapa Pak?”. Akhirnya setelah tawar menawar “sengit” aku dapat tiket juga!! Eh tapi yang bikin nggak enak ada lagi lho, ternyata tiketnya dibawa temannya yang lain. Lho gimana sih? kataku sewot. Dah kuputuskan nggak jadi, males takut kenapa-kenapa. Jangan-jangan ini penipuan kayak dikoran-koran!! Aku naik Bis Bandara (yang putarputar dari terminal satu ke yang lain) mau cari Bus Yang ke Gambir !! Eh ternyata temenya Bapak ini disitu (di dalam Bus) dan bawa tiketnya, ha,ha. Rupanya tadi barusan ditelepon Bapak tadi suruh nganter tiket. Jadilah transasksi di atas Bus Bandara, aku nggak jadi turun dari bus bandara bablas balik ke terminal keberangkatan. Sampai di depan terminal keberangkatan yang tertera di tiket aku turun.  Nggak perlu Cek _in (udah Cek In atas nama orang lain) terus bablas  masuk ke ruang tunggu. Lancar Yha? Eit tunggu dulu,  ternyata pesawat ditunda keberangkatanya, katanya karena di Yogya cuaca buruk (ada angin topan) dan pesawat nggak ada yang berangkat kesana. Ya udah pasrah lagi deh.

Selama di bandara aku terus dikabari perkembangan kondisi istriku, berita terakhir, sampai Jam 03.00 istriku sudah di ruang bersalin, perawat sudah siap, dokter sudah memantau. Jadi dulu waktu masih kontrol di dokter, istri sudah janjian sama Pak Dokter minta ditunggui  kalau mau melahirkan baik normal maupun operasi, biar tenang katanya. Dokternya ternyata menepati janji, sejak istriku masuk ke ruang bersalin dokter secara berkala meminta laporan perkembangan kondisi istriku, waktu lahirnya anakkupun pak dokter ikut mendampingi. Trims Pak Dokter Usman!!

Kadang ketika telepon samar-samar kudengar istriku lagi mengaduh kesakitan, yang ini betul-betul bikin aku tambah stress. Ini karena istriku jarang banget nangis atau mengeluh, jadi aku nggak biasa ndengerin istriku mengeluh apalagi nangis.

Setelah menunggu cukup lama dan diselingi pembagian makan sore, makanan penutup mulut kali yha soalnya pesawat delay nggak kira-kira sekitar pukul 05.00 sore pesawat berangkat. Cuaca ketika itu hujan gerimis tapi langit masih terang. Seperempat Jam pesawat di udara cuaca berubah drastis langit gelap gulita, pesawat sempat goyang-goyang menerobos awan gelap, penumpang disampingku seorang bapak tua kulihat komat-kamit berdoa dengan khusuk, padahal tadi waktu udara cerah Bapak ini masih sempet godain mbak-mbak pramugari yang lewat, ha,ha, ha. Aku kebetulan duduk dekat jendela jadi bisa tahu persis keadaan diluar, bener-bener gelap!ujung sayap cuma terlihat samar-samar dan pesawat kurasakan seperti menanjak ke atas terus, suaranya mirip truk yang kelebihan muatan di tanjakan alas roban. Ngeri sih! tapi aku gak begitu perduli, karena yang ada dipikiranku yha cuma gimana anak istriku soalnya ketika mau berangkat tadi Ibu mertua telepon minta izin operasi, sebab katanya istriku sudah tidak kuat sakitnya. Istriku minta bedah cesar ke Dokter.  Ya aku setuju saja, yang penting sehat, terus telepon tak matikan.

Cuaca mulai cerah ketika sudah masuk yogyakarta, dari atas terlihat landasan bandara Adisucipto Yogya. Ketika mendarat cuaca masih gerimis, rupanya cuaca memang benar-benar buruk, barusan ada angin topan (lesus kalo orang jawa bilang), karena paginya ketika aku baca koran KR ada laporan tentang angin ribut dan  gambar baliho roboh dan rumah yang rusah diterjan angin topan. Dan ternyata pesawat yg kutumpangi adalah pesawat  pertama yang mendarat pasca cuaca buruk tadi, kata adikku yang sore itu menjemputku.  Hal pertama yang kulakukan adalah menelpon ke istri, karena perkiraanku kalau di operasi kemungkinan besar sudah lahir  (dulu anak yang pertama nggak sampai setengah jam).

Yang menerima ternyata ibuku, beliau memberitahu kalau anakku baru saja lahir. Aku tanya laki-laki atau perempuan? Ibuku bilang, sebentar mau ditanyakan, ternyata ibuku masuk ke ruang bersalin, jadi bener-bener baru lahir, mungkin pas pesawat mendarat tadi, batinku.  Di ujung telepon sana samar-samar kudengar tangis bayi, waduh, mendengar tangisnya saja aku senang sekali. Ternyata anakku laki-laki, beratnya 3 kilogram dan sambil ketawa ibuku bilang, kulitnya hitam!! mirip ayahnya, ha,ha (setelah besar ternyata nggak hitam-hitam amat kok, he,he) dan yang bikin surprise ternyata anakku lahir normal!!!!

Gimana ceritanya!!!tadi kan dah minta izin operasi? nah rupanya itulah kepandaian Pak Dokter dan tim Perawat, Jadi Pak Dokter tahu kalau kondisi anak istriku cukup bagus dan bisa lahir normal, cuma istriku nggak kuat menahan sakit. Jadi Pak Dokter dengan di bantu Ibu-ibu Perawat melakukan “sandiwara”. Ruang operasi disiapkan, istriku didandani kayak mau dioperasi, trus di bawa pakai “gledekan” (tandu yang buat bawa pasien) tapi cuma muter-muter aja, trus balik lagi ke tempat bersalin, bukan ke ruang operasi, mereka terus mengulur waktu, bilang dokternya (mungkin dibilang dokternya banyak kali yha?) belum datang, masih  perjalanan, sedang disiapkan dll. Dan setelah Dokter datang, istriku  cuma diputer-puter aja naek “gledekan”, kan namanya orang lagi kesakitan  (bahasa jawa “nglarani” red) jadi nggak tahu, apalagi protes kalau dibohongi. Nah bersamaan dengan itu  bayinya dah menekan/memutar mau keluar,  dan setelah situsinya dirasa cukup siap (termasuk dah bukaan sekian), istriku  diberi aba-aba untuk untuk mengejan, dengan kerjasama yang kompak antara istri, perawat dan  Pak Dokter  anakkupun akhirnya bisa lahir dengan “status” normal. (begitu yang diceriterakan oleh  kanjeng ibu).

Aku berlari keluar  dengan perasaan  senang luar biasa,di lorong eskalator menuju tempat parkir, aku berlari saking nggak sabar dan senangnya.  Adikku dan Bapak mertua yang menunggu di tempat parkir, tertawa melihatku ngos-ngosan. Terima kasih ya Allah, memberi yang terbaik buatku. Terima Kasih juga Bapak, Ibu, Saudara, Temen, Pak Dokter, Bu Perawat. Untuk istriku : I love you, you’re the Best.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s